Perjalanan Cengkareng – Dubai – Dusseldorf – Bonn

Bonn, 1 Agustus 2014

Perjalanan Cengkareng –  Dubai – Dusseldorf – Bonn

Perjalanan ke luar negeri adalah perjalanan pertama kalinya semasa 26 tahun usia hidup dan langsung ke benua biru Eropa. Berada jauh dari keluarga sudah menjadi biasa karena sudah dari masa kuliah s1 sampai menikah berbeda kota, ya walaupun hanya bogor, jakarta, tangerang aja sih… tapi yang penting kan udah biasa jauh ^_^ jadi tidak terlalu homesick, apalagi jauhnya barengan ama suami, cingcay lah.

Dari cengkareng naek pesawat Emirates tanggal 31 Januari jam 23.00, dan harus sudah check in dua jam sebelumnya. Jam 9 malam sudah berada di bandara diantar keluarga. di tempat check in sudah penuh antrian. kurang lebih satu jam mengantri. Jam sebelas malam gate masuk pesawat sudah dibuka, tak lupa berdoa untuk keselamatan perjalanan yang amat panjang dalam sejarah kehidupan.

Di dalam pesawat cukup mengejutkan. Pemandangan yang amat sangat luas. Ternyata memang seperti di film-film barat, ada dua lorong dengan tiga kolom tempat duduk, kanan (3 kursi), tengah (4 kursi), kiri (3 kursi). Tempat duduk aku di pesawat tepat di depan toilet paling belakang, dekat dengan dapur dimana para pramugari-pramugara berkumpul. Enaknya kalau mau ke toilet ga usah jauh-jauh. Penumpang sepertinya banyak didominasi TKI, TKW, sebelah aku salah satunya.

Pesawat take off jam 00.45 menandakan sudah berganti hari, tanggal 1 Februari 2014. Pesawat terus menuju angkasa ke langit yang paling tinggi. Kalau pake pesawat tujuan lokal paling cuma 20 menitan udah bisa lepas sabuk. Kalo tujuan luar negeri bisa sampai satu jam kayaknya karena sampai di ketinggian 10000 km di atas permukaan laut (kalo ga salah ya) yang pasti lebih tinggi dari penerbangan komersial lokal. Waktu berlalu, kursi tetap nyaman tidak ada hambatan berarti selama perjalanan. Namun, setelah 6 jam perjalanan dan sudah mendekati Dubai, turbulensi kuat menghantam pesawat. Sampai air kopi tumpah. Tapi anehnya, sebelah saya ko santai aja sambil makan. Aku berpikir mungkin ini memang sudah biasa. Hati yang tadinya dag dig dug takut pesawat hilang kendali, jadi agak tenang liat yang sebelah juga tenang begitu. Tapi tetap berdoa sambil berdzikir. Sampai akhirnya tiba di Dubai dengan selamat.

Bandara Dubai indah dan luas. Itu kata-kata pertama saat menginjakkan kaki di Dubai. Waktu menunjukkan jam 04.00 waktu setempat. Pusing nyari gate untuk checkin ulang pesawat saking luasnya. muter sana sini, naek turun tangga. Yaudah nyari toilet aja dulu biar tenang, masih ada waktu 2 jam lagi sambil kasih kabar (untung wifi nya dapet jadi bisa kirim kabar via WA ke indonesia dan update status di Path). Di toilet ketemu sama penjaganya, menanyakan gate untuk naek pesawat tujuan dusseldorf, untung sama sama ngerti bahasa inggris. Dikasih tau lah kalau ternyata gatenya ada dibelakang toilet. Anehnya kenapa ga ada petugas check in. Ternyata… pintu yang dimaksud adalah pintu kereta untuk menghubungkan dari pintu bandara ke gate yang dimaksud. Super, saking besarnya bandara ini sampai harus pake kereta menuju tempat check in. menarik…

Sampailah di pintu check in menuju dusseldorf. Dari pintu masuk sampai ke loket pemeriksaan masih harus menuruni beberapa anak tangga. Setelah lolos pemeriksaan masih harus menunggu di ruang tunggu. Aku pikir dari ruang tunggu ssudah bisa langsung naik pesawat, ternyata harus menggunakan transportasi bus menuju badan pesawat. Mantap dan keren banget.

Keluar dari Bus, udara Dubai tidak sehangat Indonesia jam 6 pagi. Menaiki perlahan anak tangga menuju badan pesawat. Pesawat kali ini lebih kecil tapi tetap dengan formasi 3-4-3 nya hanya lebih pendek.  Tempat duduk kali ini berada di tengah badan pesawat dan diapit dua bule. Selama perjalanan ngobrol sama bule itu. Dia bilang dia asli Koln, dan memberikan wejangan kalau hidup di Jerman ini cukup keras, mungkin awal-awal bakal kaget, tapi lama-lama akan terbiasa.  Dia juga sempat bertanya berapa nilai tukar euro terhadap rupiah, saat itu 15rb. Lalu dia tertawa dan menyimpulkan, kalau bekerja di Jerman, bisa kaya raya di Indonesia. Kelakar yang cukup menyayat hati sebenernya. Tapi ya biar aja lah namanya juga baru kenal tapi emang ada benernya juga. Tibalah di Bandara Dusseldorf, ´Alles gute´kata-kata terakhir yang diucapkan bule itu dan kami berpisah begitu saja.

Pertama kali menginjakkan kaki di Jerman pada tanggal 1 Februari 2014 jam 11 siang. Melalui penerbangan Emirates Airlines tiba di Dusseldorf, kota yang termasuk ke dalam provinsi NRW di bagian Jerman Barat. Hal pertama yang dipikirkan adalah bagaimana ya ketemu suami untuk pertama kalinya setelah dipisahkan jarak selama 3 bulan, maaf ya agak lebay tapi emang itu sih kenyataannya ^_^

Pertama kali sampai di bandara, bergegas menuju loket imigrasi untuk dicek paspor. Antrian sudah panjang dan pengap. Pada akhirnya tiba giliran pemeriksaan dan Alhamdulillah lancar dan sudah bisa memasuki pintu keluar. Sudah ada suami yang setia menunggu di pintu keluar. Haru sekali, maklum baru 1 bulan pernikahan sudah ditinggal jauh.

Sebelum memulai perjalanan berikutnya, menyempatkan diri dulu ke toilet karena ada yang tidak boleh ditahan. Beberapa saat di toilet, kaget, ternyata semuanya serba pakai tisu. Olala… ini kali pertama menemukan toilet macam ini. Sebelumnya, transit di Dubai, toilet masih menggunakan selang air untuk ´cuci mencuci´. Maklum baru jalan-jalan ke luar negri jadi masih culture shock ^_^ mau ga mau pake tisu juga.

Keluar dari toilet cerita sama suami, dan suami bilang kalau disini semuanya seperti itu model toiletnya. Oke, baiklah mungkin nanti akan terbiasa.

Dari pintu ke pintu… sampailah di pintu terakhir dekat dengan pintu keluar bandara. Udara semakin dingin, dari mulut mulai keluar kepulan uap air. Sang Suami sigap bener, sudah bawa termos berisi air panas, bubuk coklat instan, dan sosis bakar. Jadi kita minum coklat panas dan makan sosis dulu untuk sekedar menghangatkan badan dan mengisi perut sebelum melakukan perjalanan ke rumah. Dia punya pengalaman kurang enak waktu pertama kali datang ke Jerman, makanya dia ga mau istrinya mengalami hal yang sama… oh.. suamiku… so sweet.. hehehe…

Setelah amunisi penuh langsung meuju kereta gantung. Woow. takjub bukan main. Kalau disini kereta gantung jadi transportasi umum. Kalau di Indonesia jadi wahana di tempat hiburan alam. Keren. Setelah naek kereta gantung tibalah naek kereta yang jalan di darat (Strassen bahn). Waktu tempuh perjalanan sekitar 30 menit dari Dusseldorf ke Bonn. Keretanya disini ada dua tingkat. Karena bawa koper besar jadi duduk di tingkat bawah aja. Dan sampailah di Bonn Hauptbahnhof. Menandakan bahwa hanya tinggal beberapa langkah lagi menuju rumah dan bisa beristirahat, meluruskan badan. Hari itu hari Sabtu, tidak banyak orang lalu lalang di jalan. Sepertinya kota ini tidak berpenduduk, sepi sekali, hal yang paling pertama terpikir saat menginjakkan kaki di Bonn.

Beberapa menit saja sudah sampai di rumah dan senang sekali pada akhirnya bisa berkumpul dengan suami tercinta di rumah yang mungil.

Sampai sini kisah perjalanannya…
akan dilanjut di beberapa halaman selanjutnya

Alles Gute ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s