MANAGEMENT ALLOWABLE DEPLETION (MAD) LEVEL UNTUK PENJADWALAN IRIGASI TANAMAN CABAI PADA TANAH TYPIC KANHAPLUDULT LAMPUNG

MANAGEMENT ALLOWABLE DEPLETION (MAD) LEVEL UNTUK PENJADWALAN IRIGASI

TANAMAN CABAI PADA TANAH TYPIC KANHAPLUDULT LAMPUNG

 

Ifah Latifah

 A.      Latar Belakang

 

Pemberian air irigasi yang efisien harus sesuai dengan kebutuhan tanaman (crop water requirement), yang dapat dilaksanakan melalui penggunaan Kapasitas Air Tersedia (Available Water Capacity), sebagai dasar perhitungan kebutuhan air. Selama ini kadar air sebesar 50%  air tersedia dijadikan sebagai dasar umum untuk memberikan air irigasi. Namun, dasar ini dianggap tidak tepat untuk diterapkan pada tanah liat yang memiliki sifat mengembang dan mengkerut (type liat 2:1), serta tanah pasir (Withers and Vipond, 1974).

Untuk menentukan jumlah dan frekuensi pemberian air irigasi, terlebih dahulu perlu diketahui nilai batas penurunan kadar air tersedia yang msaih mampu menghasilkan efisiensi penggunaan air (water use efficiency/WUE) yang optimal. Pendekatan tersebut dinamakan Management Allowable Depletion (MAD), adalah derajat kekeringan tanah yang masih diperbolehkan untuk menghasilkan produksi tanaman yang optimal (James, 1988 dalam Haryati, 2010). MAD diperlukan untuk menentukan waktu, jumlah dan frekuensi pemberian irigasi serta diperlukan teknik pendistribusian air (teknik irigasi suplemen) yang efektif dan efisien dalam pelaksanaannya.

B.      Bahan dan Alat

Seluruh data yang disajikan dalam paper ini diambil dari hasil penelitiannya Umi Haryati (2010) yang bertujuan untuk menentukan kedalaman/jumlah dan interval  pemberian air irigasi yang optimum meningkatkan efisiensi penggunaan air (WUE). Penelitian mencakup tiga tahapan yaitu : (1) penetapan kadar air untuk masing-masing perlakuan tingkat MAD, (2) penetapan kedalaman dan interval irigasi, (3) perhitungan efisiensi penggunaan air (WUE).

 C.      Metode

Penetapan kadar air untuk masing-masing perlakuan tingkat MAD dilakukan dengan cara membagi kapasitas air tersedia /KAT (%vol) ke dalam 5 bagian (20, 40, 60, 80, dan 100%) yang nantinya akan dipakai untuk menentukan pemberian air (volume dan frekuensi) pada saat kadar air menurun sampai tingkat MAD masing-masing perlakuan.

Kedalaman dan interval irigasi ditentukan berdasarkan data kadar air/tensiometer pada setiap pertumbuhan maksimum perakaran tanaman sebagai berikut.

W = ((θtcMAD)/100) x D

W adalah jumlah air yang ditambahkan (mm), θtc dan θMAD masing-masing adalah kadar air (% volume) pada kapasitas lapang dan kadar air pada level MAD yang dicobakan, dan D adalah kedalaman akar (mm). Setelah level MAD yang diinginkan tercapai (diindikasikan dengan potensial air pada setiap perlakuan), kemudian pemberian air irigasi dilakukan hingga batas kapasitas lapang. Ada 2 sumber air irigasi yang digunakan yaitu berasal dari embung (air permukaan) dan air tanah. Kedua air tersebut mempunyai kualitas yang berbeda (dari penelitian/analisa pendahuluan diketahui kedua jenis air tersebut mempunyai kandungan lumpur yang berbeda). Hal tersebut akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan selanjutnya berpengaruh terhadap efisiensi penggunaan air.

Pompa air berkekuatan 5pK digunakan untuk mengalirkan air dari sumber air ke areal pertanaman dengan system sprinkle dengan nozzle dipasang pada ketinggian 1.50 m. Tanaman indikator adalah cabai merah varietas TM 99. Petak percobaan berukuran 5 m x 10 m, menggunakan rancangan petak terpisah (Split-plot design) dengan 3 ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah :

Petak utama (A) : sumber air irigasi

A1 = air tanah

A2 = air permukaan

Anak petak (I) : level MAD

I1 = 20% air tersedia

I2 = 40% air tersedia

I3 = 60% air tersedia

I4 = 80% air tersedia

I5 = 100% air tersedia

Untuk memperjelas pemberian air pada setiap level/taraf MAD, maka irigasi diberikan pada saat kadar air dalam tanah mencapai 20, 40, 60, 80 % air tersedia atau kehilangan air dalam tanah mencapai 80, 60, 40, dan 20 % dari air tersedia, masing-masing untuk I1, I2, I3, dan I4. Untuk I5 irigasi diberikan setiap hari, sampai mencapai kapasitas lapang (100% air tersedia).

Level MAD optimum dicapai apabila memenuhi kriteria :

  1. Memberikan fluktuasi tegangan air tanah yang berada pada tegangan kapasitas lapang atau lebih rendah
  2. Memberikan pertumbuhan tanaman yang optimum
  3. Memberikan hasil tanaman yang optimum
  4. Memberikan WUE yang paling tinggi

Pupuk dasar urea, SP-36, dan KCL diberikan masing-masing sebanyak 300, 150, dan 100 kg/ha, serta pupuk kandang 10 t/ha.

Untuk penetapan jadwal irigasi dalam rangka meningkatkan efisiensi penggunaan air (WUE), hubungan kedua faktor tersebut ditentukan untuk masing-masing perlakuan. Efisiensi penggunaan air dihitung dengan tahapan-tahapan sebagai berikut.

adalah perubahan cadangan air tanah (mm), P adalah curah hujan (mm), I adalah jumlah pemberian air irigasi (mm),  adalah evapotranspirasi (mm),  adalah flux air tanah pada kedalaman perakaran (mm)/perkolasi, dan R adalah run-off (mm). Percobaan dilaksanakan di lahan kering dan pada musim kemarau sehingga tidak pernah jenuh air dan topografinya relatif datar, akibatnya komponen  (perkolasi) dan R (run-off) menjadi tidak ada (nol), sehingga persamaan di atas menjadi :

Perubahan cadangan air tanah pada kedalaman pemberian air irigasi dihitung sebagai berikut :

adalah perubahan cadangan air tanah (mm),  adalah cadangan air tanah pada waktu tertentu (mm),  adalah kadar air tanah pada basis volume (cm3/cm3) dan dz adalah kedalaman irigasi (mm). Jumlah air yang dibutuhkan tanaman (water use) dihitung sebagai berikut :

WU (ETcr) = (P+I) –

WU adalah jumlah air yang dibutuhkan tanaman (mm). Efisiensi penggunaan air (water use efficiency/WUE) adalah hasil yang diperoleh dari setiap unit pemberian air irigasi, dan dihitung sebagai berikut :

WUE = Hasil/WU

Perlakuan diaplikasikan pada saat tanaman berumur 2-3 minggu di lapangan, sedangkan sebelumnya irigasi yang diberikan hanya berupa pemeliharaan dan jumlahnya sama untuk setiap plot percobaan.

D.      Hasil dan Pembahasan

 

–          Kapasitas lapang yang diukur di lapangan dengan metode drainase internal dicapai pada matrik potensial ± 70 mBar

–          Hasil pengukuran kadar air pada kondisi tersebut adalah 23.5% volume

–          Jumlah air tersedia yang diperoleh dari kurva pF hasil analisa laboratorium adalah 8%

Sehingga :

Nilai kadar air pada perlakuan MAD 20% air tersedia adalah :

23.5% – (80% x 8%) = 17.1%

Nilai kadar air pada perlakuan MAD 40% air tersedia adalah :

23.5% – (60% x 8%) = 18.7%

Nilai kadar air pada perlakuan MAD 60% air tersedia adalah :

23.5% – (40% x 8%) = 20.3%

Nilai kadar air pada perlakuan MAD 80% air tersedia adalah :

23.5% – (20% x 8%) = 21.9%

Nilai kadar air pada perlakuan MAD 100% air tersedia adalah :

23.5% – (0% x 8%) = 23.5%

Kadar air berasosiasi dengan tegangan air yang terbaca pada tensiometer yang selanjutnya dipakai sebagai dasar pemberian irigasi masing-masing perlakuan level MAD. Irigasi diberikan pada saat kadar air yang diinginkan untuk masing-masing level MAD tercapai yang diindikasikan oleh nilai tegangan air tanah yang terbaca pada tensiometer. Irigasi diberikan pada saat tensiometer menunjukkan angka 572.0; 292.5; 158.0; 89.4; dan 63.0 mBar dengan volume pemberian air irigasi sebanyak 960, 720, 480, 240, dan 160 l/plot masing-masing untuk level MAD 20, 40, 60, 80, dan 100% air tersedia.

Volume air irigasi yang diberikan tergantung kepada banyaknya air tersedia dalam tanah. Air tersedia semakin tinggi dengan semakin tingginya level MAD dan berbanding terbalik dengan volume air irigasi yang harus diberikan setiap kali penyiraman (Tabel 1). Hal ini karena semakin tinggi level MAD, semakin tinggi kadar air yang harus dipertahankan di dalam tanah, sehingga air tersedia semakin tinggi. Dengan demikian volume irigasi yang harus diberikan setiap kali pemberian menjadi semakin rendah, dengan semakin tingginya level MAD.

Tabel 1. Air tersedia, kadar air, pF, tegangan air tanah dan irigasi yang diberikan pada setiap perlakuan MAD pada tanah Typic Kanhapludult Tamanbogo, Lampung Timur

Level MAD

AT (mm)

KA *)

(% vol)

pF

TA

(mBar)

Irigasi

(l/plot)

20% AT (I1)

4.8

17.1

2.77

572.0

960

40% AT (I2)

9.6

18.7

2.47

292.5

720

60% AT (I3)

14.4

20.3

2.21

158.0

480

80% AT (I4)

19.2

21.9

1.96

89.4

240

100% AT (I5)

24.0

23.5

1.85

70.0

160

Keterangan : *) kedalaman 30 cm, AT = air tersedia, KA = kadar air, TA = tegangan air tanah

 

Volume dan Jadwal Pemberian Irigasi

Sumber air irigasi tidak berpengaruh terhadap volume irigasi yang diberikan, sedangkan level MAD berpengaruh nyata terhadap volume irigasi yang diberikan selama satu musim tanam. Semakin tinggi level MAD, semakin tinggi jumlah air yang harus diberikan (Tabel 2). Ini karena semakin tinggi level MAD, kadar air yang harus dipertahankan dalam tanah semakin tinggi, sehingga interval irigasi semakin pendek atau irigasi semakin sering diberikan, akibatnya total pemberian air selama satu musim semakin tinggi.

Tabel 2. Jumlah irigasi yang diberikan untuk masing-masing pelakuan MAD selama satu musim tanam cabai pada tanah Typic Kanhapludult Tamanbogo, Lampung Timur

Level MAD

Sumber air irigasi

Rata-rata

Air tanah (A1)

Air permukaan (A2)

(mm)

20% AT (I1)

71.4

71.3

71.4 e

40% AT (I2)

119.4

119.4

119.4 d

60% AT (I3)

247.3

229.1

238.2 c

80% AT (I4)

423.8

396.3

410.0 b

100% AT (I5)

490.3

464.4

477.4 a

Rata-rata

270.4 A

256.1 A

Keterangan : Angka yang diikuti huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama atau huruf besar pada baris yang sama berbeda pada taraf 5% DMRT

Interval pemberian irigasi berhubungan erat dengan volume irigasi yang harus diberikan untuk mencapai kapasitas lapang pada masing-masing perlakuan MAD. Pada saat kapasitas lapang, air tersedia adalah 24 mm (8% volume x 30 cm) untuk kedalaman perakaran 30 cm. Dengan demikian irigasi yang harus diberikan adalah 19.2; 14.4; 9.6; 4.8; dan 3.2 mm masing-masing untuk perlakuan MAD 20, 40, 60, 80, dan 100 % air tersedia (Tabel 3).

Besarnya evapotranspirasi adalah 2.3, 2.5, 2.9, 3.8, dan 4.2 mm masing-masing untuk perlakuan MAD 20, 40, 60, 80, dan 100% air tersedia. Selang pemberian irigasi adalah volume irigasi yang harus diberikan per pemberian (mm) dibagi evapotranspirasi (mm/hari). Interval pemberian irigasi yaitu 8, 6, 3, dan 1 hari, masing-masing untuk level MAD 20, 40, 60, 80, dan 100% air tersedia (apabila tidak ada hujan). Level MAD 80 dan 100% air tersedia mempunyai interval yang tidak berbeda (Tabel 3). Apabila turun hujan, angka pada tensiometer sebagai pedoman level MAD dipakai sebagai dasar untuk penyiraman.

Tabel 3. Irigasi, evapotranspirasi dan interval irigasi untuk tanaman cabai pada setiap level MAD pada tanah Typic Kanhapludult Tamanbogo, Lampung Timur

Level MAD

Irigasi (mm)

ETcr (mm/hari)

Interval Irigasi (hari)

20% AT (I1)

19.2

2.3

8

40% AT (I2)

14.4

2.5

6

60% AT (I3)

9.6

2.9

3

80% AT (I4)

4.8

3.8

1

100% AT (I5)

3.2

4.2

1

Keterangan : ETcr = evapotranspirasi

 

Fluktuasi Tegangan Air Tanah

Level MAD terlihat berpengaruh terhadap fluktuasi tegangan air tanah (Gambar 1). Apabila membandingkan Gambar 1a sampai 1e, terliahat bahwa perlakuan level MAD 60% air tersedia (I3) (Gambar 1c), mempunyai fluktuasi yang paling rendah berkisar pada nilai < 50 sampai 300 mBar, dengan rata-rata 38 mBar. Berdasarkan kurva pF, kondisi kapasitas lapang berada pada pF 2.54 atau setara dengan ± 300 mBar, sehingga ini merupakan kondisi tegangan air pada kapasitas lapang (±300 mBar) sedangkan pada perlakuan level MAD 20% (I1) dan 40% air tersedia (I2), ada periode dimana tegangan air berada pada kisaran yang melebihi tegangan air pada kondisi kapasitas lapang (>300 mBar). Hal ini akan berpengaruh pada kemampuan akar tanaman untuk mengekstrak air dari tanah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada perlakuan level MAD 100% air tersedia (I5) serta hampir selalu mempunyai nilai yang paling tinggi diantara perlakuan level MAD lainnya (Tabel 4). Hal ini karena pada perlakuan level MAD 60% air tersedia (I3) sampai 100% air tersedia (I5) tanaman mendapatkan tambahan air yang konstan dalam interval yang tidak terlalu lama. Selain itu pada level MAD 60 sampai 100% air tersedia tidak terjadi cekaman air yang diindikasikan oleh fluktuasi tegangan air tanah yang berada di sekitar kapasitas lapang.

Hasil Tanaman

Tidak terjadi interaksi yang nyata antara sumber air irigasi dan level MAD terhadap fluktuasi hasil tanaman cabai. Sumber air irigasi tidak berpengaruh nyata terhadap fluktuasi  hasil panen cabai sampai dengan panen ke-7, namun pada panen ke-8, pemberian irigasi dengan air permukaan (A2) meningkatkan bobot segar buah cabai dan berbeda nyata dibandingkan dengan pemberian irigasi dengan air tanah (A1) (Gambar 2). Panen cabai mencapai puncaknya pada panen ke-6, setelah itu menurun sampai panen ke-8. Pada pemberian irigasi dengan air tanah, penurunan tersebut sangat drastis , hal ini karena jumlah unsur hara yang disumbangkan selama penyiraman tidak sebanyak air permukaan. Air permukaan banyak mengandung lumpur yang mengandung unsur hara yang diperlukan tanaman. Pada saat kandungan lumpur lebih rendah pun (32 mg/l) kandungan total haranya masih cukup tinggi, yaitu 11.61 mg/l yang terdiri dari kation-kation K, Ca, Mg, Na, Fe, Al, Mn, dan 0.21 mg/l anion PO4.

Tabel 4. Pengaruh sumber air irigasi dan level MAD terhadap tinggi tanaman cabai pada tanah Typic Kanhapludult Tamanbogo, Lampung Timur

Perlakuan

Umur tanaman (MST)

4

6

8

10

14

16

19

Sumber air irigasi
Air tanah (A1) 15.3 A 22.2 A 38.4 A 42.3 A 43.5 A 45.3 A 46.4 A
Air permukaan (A2) 14.5 A 21.3 A 39.7 A 43.4 A 46.1 A 46.5 A 48.1 A
Level MAD
20% AT (I1) 15.1 a 21.6 a 39.3 a 42.8 ab 45.7 ab 46.3 ab 47.6 ab
40% AT (I2) 14.7 a 21.6 a 38.6 a 42.8 ab 44.3 ab 46.0 ab 47.1 ab
60% AT (I3) 14.9 a 21.6 a 40.0 a 44.6 a 47.1 a 48.4 a 49.2 a
80% AT (I4) 15.2 a 22.5 a 39.7 a 43.7 ab 44.2 ab 44.5 b 47.3 ab
100% AT (I5) 14.9 a 21.5 a 37.9 a 40.7 b 42.7 b 44.3 b 45.0 b

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf besar atau huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada taraf 5% DMRT, MST = minggu setelah tanam

 

Gambar 3 memperlihatkan pengaruh perlakuan level MAD terhadap fluktuasi hasil panen cabai. Level MAD berpengaruh nyata terhadap bobot segar buah cabai pada panen ke 2 sampai panen ke 8. Panen cabai mencapai puncaknya pada panen ke-6 untuk semua perlakuan level MAD, kecuali pada level MAD 100% air tersedia (I5), tetapi berbeda dengan perlakuan level MAD 20% (I1) dan 40% air tersedia (I5) dan berbeda terhadap perlakuan lainnya. Hal tersebut juga dapat dilihat pada Tabel 5 yang menunjukkan bahwa pemberian air permukaan (A2) meningkatkan produksi total cabai dan berbeda nyata dibandingkan air tanah (A1). Hal ini menunjukkan bahwa air permukaan dapat dijadikan alternatif dan cukup potensial sebagai sumber air irigasi karena mempunyai kualitas kimiawi yang lebih baik dari air tanah. Meskipun demikian, air tanah juga dipakai sebagai air irigasi. Namun penggunaan air tanah yang berlebihan tanpa disertai usaha untuk recharge air tanah, tidak akan efektif untuk memecahkan masalah peningkatan permukaan air tanah (Jhohar et al., 2009).

Level MAD berpengaruh nyata terhadap produksi total cabai (Tabel 5). Level MAD 100% air tersedia (I5) memberikan hasil yang tertinggi dan tidak berbeda dengan level MAD 80% air tersedia (I4) tetapi berbeda dengan perlakuan level MAD lainnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penjadwalan irigasi yang mempertahankan kadar air di sekitar kapasitas lapang telah terbukti menghasilkan produksi dan N-uptake yang maksimum pada tanaman sayuran.

Hasil tanaman cabai menurun dengan menurunnya level MAD, karena adanya periode cekaman air sehingga tanaman mengalami stress air. Dalla Costa dan Gianquinto (2002) menunjukkan bahwa stress air secara kontinyu, nyata menurunkan berat segar buah cabai. Tanaman cabai memberikan hasil dengan mutu pasar yang terbaik pada irigasi 120% evapotranspirasi (ET), dan terendah pada 40% ET. Tidak terdapat perbedaan mutu pasar yang nyata antara pemberian irigasi dengan 60, 80, dan 100% ET.

Secara umum, semakin tinggi level MAD, hasil tanaman semakin meningkat, namun peningkatan tersebut tidak berbeda lagi setelah perlakuan level MAD 60% air tersedia (I3) (Tabel 5). Dengan demikian, level MAD 60% air tersedia (I3)merupakan perlakuan yang paling optimum pengaruhnya terhadap hasil tanaman cabai. Hal ini berarti air suplemen sebaiknya diberikan ketika air tersedia baru hilang 40%, karena kadar air tanah yang lebih rendah dapat menurunkan tingkat pertumbuhan dan hasil panen cabai.

Tabel 5. Pengaruh sumber air irigasi dan level MAD terhadap produksi total buah segar cabai pada tanah Typic Kanhapludult Tamanbogo, Lampung Timur

Level MAD

Total produksi buah segar t/ha)

Rata-rata

Air tanah (A1)

Air permukaan (A2)

20% AT (I1)

0.84

0.96

0.90 d

40% AT (I2)

0.94

1.10

1.02 c

60% AT (I3)

1.26

1.37

1.32 b

80% AT (I4)

1.20

1.47

1.34 ab

100% AT (I5)

1.35

1.53

1.44 a

Rata-rata

1.12 A

1.29 B

Keterangan : angka yang diikuti huruf besar yang berbeda pada baris yang sama dan huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama berbeda pada taraf 5% DMRT

Neraca Air di Zona Perakaran, Perubahan Cadangan Air Tanah dan Penggunaan Air Tanaman (Crop Water Use)

Perubahan cadangan air pada masing-masing level MAD berbeda dan pada level MAD 20% dan 40% air tersedia, total perubahan cadangan air selama pertanaman bernilai negatif (Tabel 6). Ini berarti cadangan air di dalam tanah tidak mencukupi sehingga memerlukan tambahan air berupa irigasi dan atau curah hujan. Pada level MAD 20% air tersedia (I1) kebutuhan tambahan air tersebut lebih besar dibandingkan level MAD 40% air tersedia (I2). Perubahan cadangan air pada level MAD 60% air tersedia (I3) memberikan nilai positif dan paling tinggi dibandingkan level MAD lainnya. Ini berarti, pada level tersebut, kebutuhan air tanaman masih dapat disuplai dari cadangan air tanah. Pada irigasi dengan level MAD 80% air tersedia (I4), cadangan air tanah yang dapat disuplai untuk memenuhi kebutuhan air tanaman kembali menurun dan jauh lebih kecil, dan pada level MAD 100% air tersedia (I5), perubahan cadangan air menjadi negative lagi. Ini berarti pemberian air irigasi pada level MAD 80% (I4) dan level MAD 100% air tersedia (I5) sudah tidak efisien lagi.

Penggunaan air tanaman atau konsumsi air tanaman (evapotranspirasi) dihitung melalui persamaan keseimbangan air di zona perakaran yaitu : WU (ETcr) = (P+I)-ΔS, dimana WU (ETcr) adalah jumlah air konsumtif tanaman, P adalah curah hujan, I adalah volume irigasi yang diberikan dan ΔS adalah perubahan cadangan air dalam tanah (0-20 cm).

Semakin tinggi level MAD, semakin tinggi penggunaan air oleh tanaman atau evapotranspirasi (Tabel 6). Hal ini karena semakin tinggi level MAD, semakin tinggi dan semakin sering irigasi diberikan. Dengan demikian semakin banyak air yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman, sehingga evapotranspirasi pun menjadi lebih tinggi/Level MAD 100% air tersedia (I5) memberikan evapotranspirasi yang tertinggi dan level MAD 20% air tersedia (I1) yang paling rendah. Evapotranspirasi dari yang terendah sampai yang paling tinggi berturut-turut adalah pada perlakuan level MAD 20, 40, 60, 80, dan 100% air tersedia.

Gambar 1. Fluktuasi tegangan air tanah dan irigasi untuk masing-masing level MAD serta curah hujan selama pertanaman cabai pada tanah Typic Kanhapludults Tamanbogo, Lampung Timur

Gambar 2. Pengaruh sumber air irigasi terhadap hasil cabai, pada tanah Typic Kanhapludults Tamanbogo, Lampung Timur

Gambar 3. Pengaruh level MAD terhadap hasil cabai pada tanah Typic Kanhapludults Tamanbogo, Lampung Timur

Tabel 6. Neraca air di zona perakaran dan penggunaan air tanaman cabai (kedalaman 0-20 cm) pada tanah Typic Kanhapludult Tamanbogo, Lampung Timur

Level MAD

Neraca air di zona perakaran

WU (mm)

P (mm)

I (mm)

ΔS (mm)

20% AT (I1)

355.0

71.4

-30.9

457.4

40% AT (I2)

355.0

119.4

-17.9

492.4

60% AT (I3)

355.0

238.2

20.5

572.7

80% AT (I4)

355.0

410.0

8.6

756.4

100% AT (I5)

355.0

477.4

-4.5

836.8

Keterangan : P = curah hujan, I = Irigasi, ΔS = perubahan cadangan air dalam tanah, WU = (P+I)- ΔS

 

Efisiensi Penggunaan Air (Water Use Efficiency = WUE)

Efisiensi penggunaan air untuk setiap level MAD disajikan pada Tabel 7. Efisiensi penggunaan air meningkat sampai level MAD 60% air tersedia (I3) dan setelah itu pada level 80% (I4) dan 100% air tersedia (I5) menurun, bahkan pada level MAD 100% air tersedia, efisiensi penggunaan air mencapai nilai terendah. Hal ini karena pada level tersebut, air yang digunakan lebih banyak tetapi peningkatan pemberian atau penggunaan air tidak sebanding dengan peningkatan hasil, sehingga efisiensinya menurun. Dengan demikian peningkatan level MAD tidak selalu meningkatkan efisiensi penggunaan air. Demikian pula halnya dengan penggunaan air (evapotranspirasi), peningkatan efisiensi penggunaan air (WUE). Pada perlakuan level MAD 60% air tersedia (I3), efisiensi penggunaan mencapai nilai tertinggi. Ini berarti perlakuan level MAD 60% air tersedia (I3) memberikan tingkat efisiensi penggunaan air yang paling optimum dibandingkan perlakuan level MAD lainnya.

Tabel 7. Pengaruh sumber air irigasi dan level MAD terhadap efisiensi penggunaan air tanaman cabai pada tanah Typic Kanhapludult Tamanbogo, Lampung Timur

Perlakuan

WU

Hasil

WUE

 

m3/ha

Kg/ha

Kg/m3

Sumber air irigasi
Air tanah (A1)

6254.3

1121.3

0.18

Air permukaan (A2)

6111.0

1281.2

0.21

Level MAD
20% AT (I1)

4573.6

901.4

0.20

40% AT (I2)

4923.7

1007.1

0.20

60% AT (I3)

5726.6

1316.7

0.23

80% AT (I4)

7564.0

1341.7

0.18

100% AT (I5)

8368.3

1439.3

0.17

Keterangan : WU = water use, WUE = water use efficiency = Hasil/WU

Level MAD 60% air tersedia memberikan nilai WUE tertinggi dibandingkan perlakuan level MAD lainnya. Hal ini menunjukkan level MAD 60% air tersedia mampu menghemat air. Penghematan air sebanyak 264 mm/musim tanam atau kurang lebih 2 mm/hari, bila dibandingkan dengan level MAD 100% air tersedia.

E.       Kesimpulan

Dengan melihat penetapan waktu, volume dan interval irigasi yang paling hemat air adalah level MAD 60% air tersedia.

DAFTAR PUSTAKA

Dalla Costa, L, and G. Gianquinto. 2002. Water Stress and Watertable Depth Influence Yield, Water Use Efficiency, and Nitrogen Recovery in Bell Pepper : Lysimeter Studies. Aust. J. Agric. Rec. Vol 53 : 201-210

Haryati, Umi. 2010. Peningkatan Efisiensi Penggunaan Air untuk Pertanian Lahan Kering Berkelanjutan Melalui berbagai Teknik Irigasi pada Typic Kanhapludult Lampung. [Tesis]. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor

Jhohar, R.K, A.A.M.F.R. Smit and C.W.J. Roest. 2009. Assessment of Alternative Water Management Option for Irrigated Agriculture. Agric. Water Manage. 96 (2009) 975 – 981. Elsevier. B.V

Withers, B dan S. Vipond. 1974. Irrigation : Design and Practice. Bestford Academic and Educational Limited. London. Pp. 73-74

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s