Kegiatan Konstruksi dan Perubahan Kualitas Lingkungan – Pembangunan Waduk Kedungombo (WKO)

  • Nama Proyek Pembangunan : Pembangunan Waduk Kedungombo (WKO).
  • Jangka waktu pembangunan konstruksi                : Pembangunan fisik WKO mulai dilakukan pada tahun 1985 dan selesai pada tahun 1989.
  • Kondisi Geografis : Struktur wilayah berbukit dan bergunung di sebelah Barat dan Selatan merupakan dataran subur yang luas ke arah Utara dan Timur. Sebelah utara WKO merupakan dataran rendah, sedangkan sebelah selatan merupakan dataran yang relatif tinggi yang merupakan pegunungan kecil dan beberapa bukit.
  • Tujuan Proyek WKO : pemenuhan irigasi, pengendalian banjir, sarana pembangkit tenaga listrik, sarana penyedia air minum, sarana pariwisata, dan perikanan darat.
  • Bangunan Teknis : tapal kuda, yang terdiri dari tubuh bendungan utama sepanjang 1,6 km, bangunan pelimpah, bangunan penyadap, dan pembangkit tenaga listrik, serta terowongan penggelak.
  • Gambaran umum proyek :
  1. Lingkup rencana usaha dan/kegiatan yang akan ditelaah :

Komponen rencana kegiatan penyebab dampak

Dampak kegiatan proyek WKO terhadap lingkungan dapat terjadi pada tiga tahapan kegiatan, yaitu :

  1. Tahap Prakonstruksi

Pada tahap prakonstruksi kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak adalah :

1)      Survei Lapangan

Survei lapangan terdiri dari kegiatan-kegiatan pengukuran serta kondisi existing, pemasangan patok, dan BM

2)      Pengadaan Lahan

Pengadaan lahan dilakukan dengan penentuan pemilik lahan, pengukuran luas lahan yang akan dibebaskan, negosiasi harga, dan pembayaran ganti rugi dan kompensasi

  1. Tahap Konstruksi

Pada tahap konstruksi akan berlangsung berbagai jenis kegiatan fisik. Komponen yang diperkirakan menimbulkan dampak potensial selama tahap konstruksi adalah :

1)      Mobilisasi tenaga kerja untuk konstruksi

Pengadaan dan mobilisasi tenaga kerja ini diperkirakan dapat menimbulkan kerawanan sosial karena timbulnya keresahan, kecemburuan, dan konflik dengan adat istiadat dan norma setempat

2)      Mobilisasi alat

Mobilisasi alat dengan menggunakan alat angkut diperkirakan akan menimbulkan dampak pencemaran udara, kebisingan, dan kerusakan jalan yang ada

3)      Pengadaan material

Diperkirakan kegiatan ini menimbulkan penurunan kualitas udara, bising, kualitas air, dan kesehatan masyarakat

4)      Pematangan lahan

Pematangan lahan akan menimbulkan pencemaran udara, kebisingan, dan penurunan kualitas air permukaan

5)      Konstruksi badan jalan

Konstruksi badan jalan akan dikerjakan dengan terlebih dahulu mengalihkan lalu lintas yang akan menimbulkan kemacetan, kebisingan, penurunan kualitas udara, dan kesehatan masyarakat

6)      Penyiapan tanah dasar

Penyiapan tanah dasar (pembersihan dan pengupasan tanah) akan menimbulkan pencemaran udara, kebisingan, dan penurunan kualitas air permukaan

7)      Pekerjaan cut and fill

Pekerjaan ini diperkirakan akan menimbulkan dampak peningkatan debu, kebisingan, kemacetan lalu lintas, dan peningkatan sedimen Run-Off

8)      Pekerjaan lapis perkerasan, bangunan pelengkap jalan dan jembatan

Dalam pekerjaan ini diperkirakan akan menimbulkan gangguan lalu lintas, bising, peningkatan sedimen sungai

  1. Tahap Operasi

Diperkirakan ada 2 (dua) kegiatan yang dapat menimbulkan dampak pada tahap operasi :

1)      Pengoperasian WKO

Pengoperasian WKO akan meningkatkan emisi, naiknya gangguan lalu lintas, gangguan kesehatan karena menurunnya mutu udara dan ambien. Hal ini berdasarkan adanya gejala waduk yang seringkali dijadikan objek wisata. Sehingga banyak kegiatan komersial dan non komersial yang terjadi di sekitar WKO

2)      Pemeliharaan WKO

Pemeliharaan jalan dan WKO berpotensi manimbulkan dampak pada kualitas udara dan kebisingan

  1. Komponen lingkungan yang terkena dampak
    1. Tahap Prakonstruksi

Pada tahap ini komponen yang terkena dampak lingkungan adalah :

1)      Pendapatan masyarakat akibat adanya kesempatan kerja dari kegiatan survei lapangan

2)      Persepsi masyarakat karena adanya pengadaan lahan

  1. Tahap Konstruksi

Pada tahap ini komponen lingkungan yang diperkirakan terkena dampak adalah :

1)      Kesempatan kerja dari kegiatan pengerahan tenaga kerja

2)      Perubahan fungsi ruang, lahan, dan tanah

3)      Flora dan fauna akan berkurang karena ekosistemnya telah dialih-fungsikan

4)      Tanah longsoran dari kegiatan penggalian dan penimbunan

5)      Kecelakaan/ kemacetan lalu lintas akibat lalu lintas kendaraan proyek

6)      Peningkatan pendapatan masyarakat akibat kehadiran para pekerja proyek yang membutuhkan makanan dan tempat tinggal

7)      Adat istiadat dan tata nilai karena beroperasinya basecamp para pekerja dari luar daerah

8)      Penurunan pendapatan akibat hilangnya kesempatan kerja karena kegiatan pengurangan tenaga kerja yang digantikan oleh mesin-mesin semi otomatis

9)      Kesehatan masyarakat akibat debu dan kebisingan

  1. Tahap Operasi

Komponen lingkungan yang terkena dampak pada tahap ini adalah :

1)      Kecelakaan penduduk akibat peningkatan lalu lintas para pengunjung WKO

2)      Hidrologi berupa adanya peningkatan run-off akibat perluasan jalan untuk memudahkan transportasi menuju WKO yang dijadikan objek wisata

3)      Peningkatan pendapatan akibat terciptanya kesempatan kerja dan berusaha dengan adanya peningkatan aktivitas perekonomian daerah pada saat kegiatan pengoperasian WKO

4)      Kesehatan masyarakat akibat kebisingan dan penurunan kualitas udara sebagai akibat dari kegiatan pengoperasian jalan

5)      Perubahan tata ruang, lahan, dan tanah akibat adanyanya peningkatan aktivitas ekonomi dan pariwisata

6)      Adat istiadat dan tata nilai karena peningkatan kegiatan pariwisata

  • Kesimpulan :
  1. Jika ditinjau dari segi lingkungan, maka proyek pembangunan WKO ini dikatakan tidak layak apabila banyak menimbulkan dampak negatif dari pada dampak positifnya. Dampak negatifnya seperti penurunan kualitas udara, kebisingan yang tidak memenuhi standar, sedimentasi dan run-off akibat perubahan tata ruang, penurunan flaura dan fauna darat, dll.
  2. Jika ditinjau dari segi teknis dan ekonomis, maka proyek pembangunan WKO ini dinilai layak karena kemampuannya mengairi sawah seluas 59.400 ha yang disalurkan oleh jaringan irigasi, pemenuhan irigasi sawah, pengendalian banjir, sarana pembangkit tenaga listrik, sarana penyedia air minum, sarana pariwisata, dan perikanan darat. Sehingga dapat meningkatkan perekonomian di wilayah sekitar WKO.

Catatan tambahan :

Dikarenakan keterbatasan sumber mengenai dampak yang lebih real maka layak dan tidak layak pembangunan proyek WKO ini masih bersifat subjektif dan dugaan. Namun pemikiran saya dalam mengevaluasi kelayakan tetap mengacu kepada peraturan UU No. 51 tahun 1993 tentang analisis mengenai dampak lingkungan, dan No. 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup. Kelayakan tersebut harus memperhatikan :

  1. Jumlah manusia yang terkena dampak
  2. Lamanya dampak berlangsung
  3. Intensitas dampak
  4. Banyaknya komponen lingkungan yang akan terkena dampak
  5. Sifat kumulatif dampak
  6. Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya dampak tersebut

Daftar Pustaka

Silvia, Sinta Dewi. 2010. Pembangunan Waduk Kedung Ombo Dan Pengaruhnya Terhadap Produksi Padi Serta Aspek Sosial Ekonomi Masyarakat Di Kabupaten Grobogan (1981-2003). Skripsi. Universitas Diponegoro.

_______. 2010. Waduk Kedung Ombo http://grobogan.go.id/objek-wisata/waduk-kedung-ombo.html [23/02/12]

________. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 Tentang : Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s