Perjalanan Cengkareng – Dubai – Dusseldorf – Bonn

Bonn, 1 Agustus 2014

Perjalanan Cengkareng –  Dubai – Dusseldorf – Bonn

Perjalanan ke luar negeri adalah perjalanan pertama kalinya semasa 26 tahun usia hidup dan langsung ke benua biru Eropa. Berada jauh dari keluarga sudah menjadi biasa karena sudah dari masa kuliah s1 sampai menikah berbeda kota, ya walaupun hanya bogor, jakarta, tangerang aja sih… tapi yang penting kan udah biasa jauh ^_^ jadi tidak terlalu homesick, apalagi jauhnya barengan ama suami, cingcay lah.

Dari cengkareng naek pesawat Emirates tanggal 31 Januari jam 23.00, dan harus sudah check in dua jam sebelumnya. Jam 9 malam sudah berada di bandara diantar keluarga. di tempat check in sudah penuh antrian. kurang lebih satu jam mengantri. Jam sebelas malam gate masuk pesawat sudah dibuka, tak lupa berdoa untuk keselamatan perjalanan yang amat panjang dalam sejarah kehidupan.

Di dalam pesawat cukup mengejutkan. Pemandangan yang amat sangat luas. Ternyata memang seperti di film-film barat, ada dua lorong dengan tiga kolom tempat duduk, kanan (3 kursi), tengah (4 kursi), kiri (3 kursi). Tempat duduk aku di pesawat tepat di depan toilet paling belakang, dekat dengan dapur dimana para pramugari-pramugara berkumpul. Enaknya kalau mau ke toilet ga usah jauh-jauh. Penumpang sepertinya banyak didominasi TKI, TKW, sebelah aku salah satunya.

Pesawat take off jam 00.45 menandakan sudah berganti hari, tanggal 1 Februari 2014. Pesawat terus menuju angkasa ke langit yang paling tinggi. Kalau pake pesawat tujuan lokal paling cuma 20 menitan udah bisa lepas sabuk. Kalo tujuan luar negeri bisa sampai satu jam kayaknya karena sampai di ketinggian 10000 km di atas permukaan laut (kalo ga salah ya) yang pasti lebih tinggi dari penerbangan komersial lokal. Waktu berlalu, kursi tetap nyaman tidak ada hambatan berarti selama perjalanan. Namun, setelah 6 jam perjalanan dan sudah mendekati Dubai, turbulensi kuat menghantam pesawat. Sampai air kopi tumpah. Tapi anehnya, sebelah saya ko santai aja sambil makan. Aku berpikir mungkin ini memang sudah biasa. Hati yang tadinya dag dig dug takut pesawat hilang kendali, jadi agak tenang liat yang sebelah juga tenang begitu. Tapi tetap berdoa sambil berdzikir. Sampai akhirnya tiba di Dubai dengan selamat.

Bandara Dubai indah dan luas. Itu kata-kata pertama saat menginjakkan kaki di Dubai. Waktu menunjukkan jam 04.00 waktu setempat. Pusing nyari gate untuk checkin ulang pesawat saking luasnya. muter sana sini, naek turun tangga. Yaudah nyari toilet aja dulu biar tenang, masih ada waktu 2 jam lagi sambil kasih kabar (untung wifi nya dapet jadi bisa kirim kabar via WA ke indonesia dan update status di Path). Di toilet ketemu sama penjaganya, menanyakan gate untuk naek pesawat tujuan dusseldorf, untung sama sama ngerti bahasa inggris. Dikasih tau lah kalau ternyata gatenya ada dibelakang toilet. Anehnya kenapa ga ada petugas check in. Ternyata… pintu yang dimaksud adalah pintu kereta untuk menghubungkan dari pintu bandara ke gate yang dimaksud. Super, saking besarnya bandara ini sampai harus pake kereta menuju tempat check in. menarik…

Sampailah di pintu check in menuju dusseldorf. Dari pintu masuk sampai ke loket pemeriksaan masih harus menuruni beberapa anak tangga. Setelah lolos pemeriksaan masih harus menunggu di ruang tunggu. Aku pikir dari ruang tunggu ssudah bisa langsung naik pesawat, ternyata harus menggunakan transportasi bus menuju badan pesawat. Mantap dan keren banget.

Keluar dari Bus, udara Dubai tidak sehangat Indonesia jam 6 pagi. Menaiki perlahan anak tangga menuju badan pesawat. Pesawat kali ini lebih kecil tapi tetap dengan formasi 3-4-3 nya hanya lebih pendek.  Tempat duduk kali ini berada di tengah badan pesawat dan diapit dua bule. Selama perjalanan ngobrol sama bule itu. Dia bilang dia asli Koln, dan memberikan wejangan kalau hidup di Jerman ini cukup keras, mungkin awal-awal bakal kaget, tapi lama-lama akan terbiasa.  Dia juga sempat bertanya berapa nilai tukar euro terhadap rupiah, saat itu 15rb. Lalu dia tertawa dan menyimpulkan, kalau bekerja di Jerman, bisa kaya raya di Indonesia. Kelakar yang cukup menyayat hati sebenernya. Tapi ya biar aja lah namanya juga baru kenal tapi emang ada benernya juga. Tibalah di Bandara Dusseldorf, ´Alles gute´kata-kata terakhir yang diucapkan bule itu dan kami berpisah begitu saja.

Pertama kali menginjakkan kaki di Jerman pada tanggal 1 Februari 2014 jam 11 siang. Melalui penerbangan Emirates Airlines tiba di Dusseldorf, kota yang termasuk ke dalam provinsi NRW di bagian Jerman Barat. Hal pertama yang dipikirkan adalah bagaimana ya ketemu suami untuk pertama kalinya setelah dipisahkan jarak selama 3 bulan, maaf ya agak lebay tapi emang itu sih kenyataannya ^_^

Pertama kali sampai di bandara, bergegas menuju loket imigrasi untuk dicek paspor. Antrian sudah panjang dan pengap. Pada akhirnya tiba giliran pemeriksaan dan Alhamdulillah lancar dan sudah bisa memasuki pintu keluar. Sudah ada suami yang setia menunggu di pintu keluar. Haru sekali, maklum baru 1 bulan pernikahan sudah ditinggal jauh.

Sebelum memulai perjalanan berikutnya, menyempatkan diri dulu ke toilet karena ada yang tidak boleh ditahan. Beberapa saat di toilet, kaget, ternyata semuanya serba pakai tisu. Olala… ini kali pertama menemukan toilet macam ini. Sebelumnya, transit di Dubai, toilet masih menggunakan selang air untuk ´cuci mencuci´. Maklum baru jalan-jalan ke luar negri jadi masih culture shock ^_^ mau ga mau pake tisu juga.

Keluar dari toilet cerita sama suami, dan suami bilang kalau disini semuanya seperti itu model toiletnya. Oke, baiklah mungkin nanti akan terbiasa.

Dari pintu ke pintu… sampailah di pintu terakhir dekat dengan pintu keluar bandara. Udara semakin dingin, dari mulut mulai keluar kepulan uap air. Sang Suami sigap bener, sudah bawa termos berisi air panas, bubuk coklat instan, dan sosis bakar. Jadi kita minum coklat panas dan makan sosis dulu untuk sekedar menghangatkan badan dan mengisi perut sebelum melakukan perjalanan ke rumah. Dia punya pengalaman kurang enak waktu pertama kali datang ke Jerman, makanya dia ga mau istrinya mengalami hal yang sama… oh.. suamiku… so sweet.. hehehe…

Setelah amunisi penuh langsung meuju kereta gantung. Woow. takjub bukan main. Kalau disini kereta gantung jadi transportasi umum. Kalau di Indonesia jadi wahana di tempat hiburan alam. Keren. Setelah naek kereta gantung tibalah naek kereta yang jalan di darat (Strassen bahn). Waktu tempuh perjalanan sekitar 30 menit dari Dusseldorf ke Bonn. Keretanya disini ada dua tingkat. Karena bawa koper besar jadi duduk di tingkat bawah aja. Dan sampailah di Bonn Hauptbahnhof. Menandakan bahwa hanya tinggal beberapa langkah lagi menuju rumah dan bisa beristirahat, meluruskan badan. Hari itu hari Sabtu, tidak banyak orang lalu lalang di jalan. Sepertinya kota ini tidak berpenduduk, sepi sekali, hal yang paling pertama terpikir saat menginjakkan kaki di Bonn.

Beberapa menit saja sudah sampai di rumah dan senang sekali pada akhirnya bisa berkumpul dengan suami tercinta di rumah yang mungil.

Sampai sini kisah perjalanannya…
akan dilanjut di beberapa halaman selanjutnya

Alles Gute ^_^

Bagaimana menginjakkan kaki ke Jerman dengan Visa Kumpul Keluarga?

Bonn, 1 Agustus 2014

Bagaimana menginjakkan kaki ke Jerman dengan Visa Kumpul Keluarga?

—–Cerita singkat dan beberapa tips —–

Karena sedang istirahat dari pekerjaan yang cukup padat, liburan ini saya coba merangkum bagaimana dahulu bisa dengan mulus menginjakkan kaki di Jerman.

Saya adalah istri dari seorang PhD student di Universitas Bonn, Jerman. Menikah tanggal  21 September 2013 kemudian pada awal Oktober 2013 suami berangkat terlebih dahulu ke Jerman. Keinginan yang kuat bisa berangkat bersama-sama terpatahkan dengan sistem administrasi di kedutaan Jerman di Indonesia. Pengajuan visa ´kumpul keluarga´ mengharuskan saya, mempunyai sertifakat Delf A1 Bahasa Jerman dari Goethe Intitut. Pertimbangan lainnya adalah, suami harus sudah perpanjangan visa di Auslanderamt di Jerman (bagian keimigrasian Jerman) dan itu membutuhkan waktu kurang lebih 2 bulan setelah sampai di Jerman. Ada pengalaman teman yang mengajukan visa kumpul keluarga, ditolak oleh kedutaan jerman di Indonesia karena suaminya belum perpanjang visa di Jerman. Sayang sekali, padahal biaya pengajuan visa nya tidak sedikit.

Keadaan seperti ini tidak membuat saya lantas kecewa. Saya yakin banyak hal yang tidak saya dan suami saya ketahui untuk kebaikan bersama di Jerman nanti. Saya dan suami tetap bersemangat dan berusaha mengumpulkan dokumen-dokumen yang menjadi persyaratan Visa Kumpul Keluarga (Familiennachzug).

Sambil menunggu perpanjangan visa suami, saya bisa ikut intensif kursus bahasa Jerman di Goethe Institut Bandung. Waktu itu saya ikut periode akhir September 2013 dan berakhir pada Akhir Desember 2013. Sudah memberanikan diri ikut Prüfung Tes A1 pada minggu ke-1 November 2013. Dan menjadi satu-satunya murid baru yang ikut ujian A1 di bulan November. Berkat doa dan dukungan penuh suami tercinta hasilnya, Alhamdulillah 87/100 (bukan bermaksud sombong, tapi untuk memberikan semangat dan kepercayaan diri buat yang mau ujian A1, walaupun baru belajar 1 bulan tapi kalau sungguh-sungguh bisa kok lulus). Metode belajar di Goethe Institut bagus, gurunya juga mendukung kalau saya mau ikut tes. Disediakan waktu untuk berlatih di kelas bersama teman-teman yang lain. Diberikan buku soal-soal yang sering keluar di ujian A1. Cukup belajar dari buku itu, insya Allah kamu bisa dapat nilai memuaskan. Buku latihannya juga bisa dibaca di perpustakaan Goethe Institut.

Jadwal ujian A1 bisa kamu lihat disini

Jadwal tes di GI Bandung http://www.goethe.de/ins/id/id/bad/lrn/prf/sd1.html

Jadwal tes di GI Jakarta http://www.goethe.de/ins/id/id/jak/lrn/prf/sd1.html

setiap bulan selalu ada. Jadi kalau kamu tidak lulus ujian bisa mengulang, ikut jadwal ujian berikutnya satu bulan lagi. Tapi pasti lulus, kan sudah dikasih tau tipsnya di atas J

Penting, proses visa di kedutaan jerman Indonesia tidak seperti mendatangi kantor sipil di Indonesia. Jadi harus disiapkan jauh-jauh hari. Seperti apa prosedurnya?

berikut ini linknya : http://www.jakarta.diplo.de/Vertretung/jakarta/id/01_20Visa/03national/antragsverfahren.html

hal yang perlu diperhatikan adalah membuat janji ke kedutaan. Usahakan 3 bulan sebelumnya kamu sudah buat janji dengan kedutaan. Karena jadwal kedutaan seringkali penuh. Jangan sampai kamu dapat janji yang mepet dengan rencana kamu berangkat, padahal proses pengajuan visa bisa memakan waktu 3 bulan.

Pada bulan Oktober saya sudah membuat janji dengan kedutaan untuk pengajuan visa pada pertengahan Desember. Alhamdulillah jadwalnya masih kosong dan pada bulan tersebut juga Visa suami sudah selesai diperpanjang. Berikut ini adalah link untuk membuat janji pengajuan Visa Kumpul Keluarga : https://service2.diplo.de/rktermin/extern/choose_category.do?locationCode=jaka&realmId=186&categoryId=310

Harus diperhatikan, terutama untuk pengajuan visa di bulan Desember. Dokumen kamu dari kedutaan jerman di Indonesia akan dikirim ke kantor keimigrasian di Jerman. Usahakan jangan sampai lewat tanggal 20 Desember. Karena bagian keimigrasian di Jerman sudah tutup mulai tanggal 23 Desember dan buka kembali pada minggu kedua januari. Jadi kalau dokumen kamu mau segera diproses oleh kantor keimigrasian di Jerman, kamu harus melengkapi dokumen dan membuat janji paling lambat 10 hari kerja sebelum tanggal 23 Desember.

Berikut ini adalah dokumen persyaratan pengajuan Visa Kumpul Keluarga yang sudah ada di website resmi kedutaan Jerman di Indonesia
(http://www.jakarta.diplo.de/contentblob/3453912/Daten/3190036/ehegattennachzug.pdf )

1. Paspor yang masih berlaku dan dua lembar fotokopi dengan halaman yang ada fotonya

pastikan masa berlaku paspor kamu lebih dari 4 bulan saat pengajuan, karena proses di kedutaan bisa memakan waktu sampai 3 bulan, perpanjangan paspor bisa dilakukan di KJRI setelah tiba di Jerman

2. Dua rangkap formulir permohonan, diisi lengkap dalam bahasa Jerman. (alamat lengkap dengan kode pos dan nomor telefon harus ditulis lengkap)
Pastikan formulir yang kamu unduh adalah Formulir Permohonan Izin Tinggal/ bukan formulir VISA Schengen. Karena kamu akan tinggal lebih dari 3 bulan di Jerman. Kasus teman saya, permohonan Visanya ditolak gara-gara salah isi formulir. Sayangkan, udah bayar 60 Euro tapi ternyata ditolak. Tapi jangan berkecil hati kalau ditolak masih bisa mengajukan lagi satu bulan kemudian.berikut ini link untuk mengunduh Formulir Pengajuan Visa Kumpul Keluarga

( http://www.jakarta.diplo.de/contentblob/3453968/Daten/1926/antrag_national.pdf )untuk pengisian formulir kamu bisa konsultasikan ke lembaga-lembaga bahasa Jerman yang ada di Indonesia. Goethe Institut salah satunya menyediakan jasa untuk konsultasi visa. Kemarin, saya juga minta bantuan dari Goethe Institut Bandung untuk pengisian formulirnya. Saat konsultasi, pastikan semua dokumen kamu sudah lengkap. Jadi konsulernya lebih mudah membantu kamu.

3. Dua lembar pasfoto terkini, satu lembar jangan direkatkan.

pada poin ini amannya kamu bawa foto sebanyak-banyaknya, bilamana diperlukan tidak usah bolak-balik cetak foto keluar. Adapun standar foto untuk visa jerman adalah sebagai berikut http://www.jakarta.diplo.de/contentblob/4015210/Daten/178573/Fotomustertafel.pdf

kalau bisa persyaratan fotonya diprint dan dikasih lihat kepada operator fotonya/foto editor supaya tidak salah. Bagi yang berhijab, usahakan 80% muka kamu terlihat. Rambut dan telinga tentunya tidak masalah kalau ditutup.

4. Akte nikah/buku nikah atau pencatatan pernikahan sesama jenis (dalam bentuk asli dan fotokopi)

pada poin ini buku nikah yang diminta oleh kedutaan Jerman di Indonesia adalah buku nikah asli yang sudah dilegalisir oleh kedutaan jerman di bagian konsuler. Untuk mendapatkan legalisirnya, buku nikah perlu diterjemahkan ke bahasa Jerman dan proses penerjemahannya sendiri membutuhkan beberapa tahapan legalisir di beberapa lembaga pemerintahan Indonesia. Penjelasannya ada di link http://www.jakarta.diplo.de/contentblob/3981412/Daten/4152630/download_legalisation.pdf

berikut ini tahapan-tahapannya:

a. Buku nikah difotokopi 3x dan dilegalisir di kantor KUA terdekat (sesuai dengan buku nikah). Biaya gratis. Prosesnya hari itu juga jadi.

b. Legalisir buku nikah pada poin a. dibawa ke Kementrian Agama di Jakarta. Jangan lupa bawa fotokopi KTP kamu dan suami dan buku nikah asli (buku nikah istri dan atau buku nikah suami, bisa salah satunya saja. Kemarin saya diminta dua-duanya tapi karena buku nikah suami sudah mendarat lebih dulu di Jerman jadi hanya satu saja yang dilegalisir, tapi tidak menjadi masalah)
Setelah dilegalisir di Kementrian Agama, langsung fotokopi legalisirnya rangkap 3 untuk diajukan ke Kementrian Hukum dan Ham, kalau belum bawa materai 6.000 dan map kuning beli sekalian 2 lembar untuk keperluan di Kemenhumham. Tempat Fotokopi terdekat di gedung BPPT (kantin pujasera BPPT lantai 2) sebelahan sama gedung Kementrian Agama. Info pastinya Tanya satpam BPPT yang jaga di depan.
Dulu saya berangkat pagi ke Kementrian Agama karena ingin mengejar antian di Kemenhumham. Jam 09.00 wib sudah duduk manis menunggu legalisir di Kemenag, jam 12.00 wib sudah selesai legalisirnya. Langsung fotokopi dan meluncur naik ojek ke Kemenhumham. Saat itu belum tahu lokasi Kemenhumham dekat halte busway mana. Jadi biar cepet, naik ojek adalah pilihan yang tepat.
Rangkuman
Lokasi : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama Republik Indonesia Bagian Kepenghuluan (Lantai 7) Jalan MH. Thamrin Nomor 6 Jakarta Pusat 10700 Telefon: 021-3920245 (Bagian Kepenghuluan) 021-3811429 (Bagian Tata Usaha) Fax: 021-3920449 http://bimasislam.kemenag.go.id

gedungnya warna hijau, sebelahan dengan gedung BPPT.
Halte busway terdekat Halte Busway Bank Indonesia. Bagian yang melayani legalisir buku nikah bisa langsung ditanyakan ke Satpam di lobby untuk lokasi pastinya.

Biaya : gratis
Proses : hari itu juga jadi
Dokumen yang dibawa : Buku nikah asli dan fotokopiannya rangkap 3 yang sudah dilegalisir KUA setempat/KUA kecamatan

c. legalisir buku nikah dan fotokopinya pada poin b dibawa ke Kementrian Hukum dan Ham. Pastikan disusun rapi di dalam map (warna bebas, tapi dulu saya pake map warna kuning). Sesampai disana Tanya ke satpam yang jaga, gedung yang melayani legalisir buku nikah dimana. Posisinya agak kedalam dan pasti riuh orang.
Sesampai di gedung yang dimaksud, langsung ambil antrian elektronik di depan pintu masuk untuk pelayanan legalisir (loket 11 kalau tidak salah), biasanya ada satpam yang jagain no antriannya kalau ragu-ragu bisa ditanyakan kepada satpam yang jaga, karena ada dua tombol antrian.
Lokasi loket, kalau dari depan gedung ada di sebelah kiri paling pojok. Jadi kalau sudah dapat nomor antrian duduk manis aja di depannya, menunggu dipanggil, dan pastikan dokumen kamu sudah lengkap di dalam map (buku nikah yang sudah dilegalisir kemenag dan fotokopiannya 3x + materai 6000 1 lembar + fotokopi KTP). Tempat fotokopi dan penjualan map dan materai ada di lingkungan kementrian (dekat tempat parkir mobil, lantai 2).
Setelah diproses di loket, petugas loket akan meminta pembayaran Rp. 25.000 (tahun 2013) untuk biaya administrasi. Uang tersebut dibayarkan di kasir BNI. Prosesnya sama seperti setor tunai di teller BNI. Ada ketentuan dan cara pengisian slip di dekat slip setoran BNI nya, untuk beberapa kasus berbeda cara pengisian slipnya jadi perhatikan dengan seksama instruksinya. Slip yang sudah diisi disetorkan bersama uang Rp.25.000 ke kasir. Waktu itu saya setor menggunakan pecahan Rp.50.000 dan dikembalikan Rp.20.000. Waktu saya tanya kurang 5.000, bagian kasirnya mengatakan itu untuk biaya yang lain.
Setelah mendapat cap lunas di kasir, langsung berikan slipnya kepada loket yang menerima berkas kamu di awal. Supaya slipnya disatukan dengan dokumen kamu. Slip kopian diambil oleh petugas, dan 1 slip yang aslinya dibawa untuk pengambilan dokumen di hari berikutnya. Nanti bagian loket memberitahu kapan kamu bisa ambil dokumen kamu yang sudah dilegalisir. Untuk dokumen saya kemarin, prosesnya 3 hari kerja. Dan itu ontime banget. Jadi kamu harus ambil dokumennya sesuai dengan yang dibilang petugas loketnya. Waktu itu saya ambil dokumennya 7 hari kerja, karena saya harus pulang ke bandung untuk mengikuti les di GI dan tidak mungkin bolos sampai 3 hari. Bolosnya tiap hari Jumat saja, karena waktunya pendek J jadi ga rugi-rugi amat kalau bolos. Petugas loketnya agak kesel sih, kenapa dokumennya tidak diambil-ambil harusnya diambil Rabu, tapi diambil Jumat. Jadi petugasnya harus bolak balik ngecek dokumen saya, karena udah ketumpuk dengan dokumen yang baru. Untuk pengambilan dokumen, prosesnya sama seperti sebelumnya pakai system antrian, jangan lupa bawa slip pembayaran asli yang sudah dicap lunas waktu sebelumnya datang pertama kali.
Alhamdulillah, dokumen saya ada dan lancar, meluncur ke Departemen Luar Negri tapi sebelumnya dokumen yang sudah dilegalisir difotokopi rangkap 3 di kemenhumham. Dan siapkan materai 6000 1 lembar untuk pengajuan legalisir di DEPLU
Rangkuman :
Lokasi : Kantor Kementrian Hukum dan HAM – Dirjen AHU (Administrasi Hukum Umum)
Jl Rasuna Said no.8 Kuningan Jakarta (depan GOR Soemantri/dekat dengan Pasar Festival)
Halte busway terdekat  Halte busway GOR Soemantri
Biaya : Rp. 30.000,-
Proses : 3 hari kerja
Dokumen yang dibawa : Map kuning, Buku nikah asli beserta fotokopiannya rangkap 3 yang sudah dilegalisir Kemenag Pusat, fotokopi KTP, materai 6000

d. legalisir buku nikah dan fotokopinya di Departemen Luar Negri Jakarta.

Waktu sampai di Komplek Deplu banyak sekali gedungnya. Harus beberapa kali Tanya satpam. Berikut ini rangkumannya :
Lokasi : Departemen Luar Negri Dirjen Protokol dan Konsuler – Loket Layanan Publik
Jl. Pejambon No. 6, Jakarta
Halte busway terdekat : Halte Deplu. Masuk melalui gerbang terdekat dari halte Deplu. Jalan terus ke arah Stasiun Gambir sampai bertemu tulisan Loket Layanan Publik. (Tanya satpam aja untuk memastikan)
Biaya : Rp. 10.000,-
Proses : 1 hari kerja (dokumen selesai keesokan harinya). Sebelum ke loket, terlebih dahulu isi form permohonan legalisir di depan loket permohonan legalisir.
Dokumen yang dibawa: Map berwarna KUNING, buku nikah asli yang sudah dilegalisir kemenham dan fotokopinya, Fotokopi KTP, Materai 6000

e. Menerjemahkan buku nikah kedalam bahasa Jerman menggunkan jasa Penerjemah Tersumpah.
Pastikan buku nikah sudah dilegalisir di tiga kementrian : Kementrian Agama, Kementrian Hukum dan Ham, dan Kementrian Luar Negeri baru diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Setelah legalisir cukup saya langsung telpon Pak Rabbani, salah satu penerjemah tersumpah, untuk dimintai jasa menerjemahkan buku nikah saya ke dalam bahasa Jerman. Bapaknya baik banget. Berhubung saya tinggal di Bandung dan butuh cepat untuk proses di kedutaan jadi kirim datanya cukup per Email. Prosesnya juga cepat hanya 2 hari. Mungkin karena dibilang butuh cepat kali ya. Dokumennya yang sudah selesai diterjemahkan saya ambil sendiri ke rumahnya. Kebetulan rumahnya dekat dengan rumah saudara saya di Ciledug dan supaya besoknya saya sudah bisa meluncur ke kedutaan jerman untuk legalisir terakhir. Saya  juga sekalian membawa buku nikah asli untuk ditunjukkan ke beliau. Waktu itu biaya yang dikeluarkan untuk jasa penerjemah, terjemahan asli dan fotokopi rangkap 2 sebesar Rp. 275.000,- . sebenernya kopian terjemahan tidak terlalu dibutuhkan di Jerman (sampai saat ini belum dibutuhkan) jadi terjemahan aslinya saja juga cukup. Kemarin saya yang minta dikopi dua kali takut ada apa-apa.
Selain Pak Robbani ada beberapa penerjemah tersumpah lainnya, berikut ini linknya : http://www.jakarta.diplo.de/contentblob/3980974/Daten/3967333/download_uebersetzer_neu.pdf

list penerjemah tersumpah ada di halaman 1 saja.
Rangkuman :
Lokasi : Penerjemah Tersumpah Bahasa Jerman, Bpk. Akhmad Rabbani
Jl. Damai No. 21, Petukangan RT/02/05 Jakarta Selatan 12270
Biaya : Rp. 275.000,- sudah termasuk jasa penerjemah + terjemahan buku nikah + kopian terjemahan rangkap 2
Proses : 2 hari
Dokumen yang dibawa : Buku nikah asli yang sudah dilegalisir di 3 kementrian

f. Legalisir buku nikah di Kedutaan Jerman.

tahapan ini adalah tahapan akhir untuk memenuhi persyaratan poin 4. Setelah buku nikah diterjemahkan, kemudian dilegalisir oleh kedutaan Jerman di Jakarta. Tidak perlu membuat janji, datang saja langsung pada jam 08.00-11.00 di loket konsuler ada di lantai yang sama dengan pos satpam. Bisa tanyakan satpam untuk lokasi pasti loketnya. Jangan lupa ambil antrian di depan pintu masuk. Ada dua tombol antrian, konsultasi dengan bahasa jerman atau konsultasi dengan bahasa Indonesia berbicara (keterangannya ditulis dalam bahasa jerman). Pastikan kamu memilih tombol sesuai dengan kefasihan baahasa kamu ^_^ Alhamdulillah saya pilih tombol yang benar, konsultasi menggunakan bahasa Indonesia.
Rangkuman :
Lokasi : Kedutaan Jerman (Bagian Konsuler), Jl. Thamrin 1, Jakarta 10310 (samping Hotel Mandarin) dekat Grand Indonesia, waktu berkunjung: Senin-Jumat 08.00 – 11.30 WIB, untuk legalisasi tandatangan pejabat Kementrian Luar Negeri RI.
Halte busway terdekat : Bundaran HI atau Tosari

Biaya: € 25,00/45,00- dibayar dengan Rupiah
Proses : satu hari jadi
Dokumen yang dibawa: yang utama membawa buku nikah asli yg sudah dilegalisir di 3 kementrian (agama, humham, dan luar negeri), terjemahan asli yg ada cap ttd penerjemah tersumpah, dokumen lain-lain : usahakan semua dokumen aplikasi visa dibawa semua (terutama yg menyangkut data suami)

5. Surat keterangan dari pasangan yang tinggal di Jerman mengenai rencana kumpul keluarga di Jerman (dalam bentuk asli dan fotokopi rangkap dua)

6. Bukti kemampuan dasar bahasa Jerman pada dasarnya dibuktikan dengan Sertifikat A1 dari Goethe Institut (dalam bentuk asli dan fotokopi).

7. Bukti tempat tinggal pasangan di Jerman contohnya bukti dari dinas pendaftaran (tidak lebih lama dari 4 bulan) atau fotokopi kartu identitas.

8. Bukti kecukupan keuangan (dalam bentuk fotokopi rekening Koran tabungan). Untuk poin ini saya menggunakan rekening Koran tabungan suami dan surat sakti dari pemberi beasiswa untuk study suami saya.

Demikian cerita singkat dan beberapa tips mengajukan Visa Kumpul Keluarga. Semuanya dilakukan sendiri. Walaupun dulu pernah menggunakan jasa bantuan legalisir JITS tapi sangat mengecewakan, dokumen saya tidak diurus sampai 1 bulan lamanya, pada akhirnya saya sendiri yang mengurus semuanya. Pastikan semua persyaratan terpenuhi sebelum masuk loket pengajuan Visa Kumpul Keluarga di Kedutaan Jerman dan harus dibawa sendiri.

semoga bermanfaat
Salam,
Ifah Latifah

Add Contact Form

Perilaku Sumber Air

PERILAKU SUMBER AIR

Ifah Latifah

Sumber air adalah tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah. Indonesia merupakan negara yang mempunyai sumberdaya air (SDA) sangat beragam dan besar, seperti mata air, air tanah tertekan, dan air permukaan (sungai). Potensi ini harus dikelola secara sistemik agar SDA dapat digunakan secara optimal dan berkelanjutan. Namun, pada dekade terakhir telah mulai dirasakan adanya penurunan potensi ketersediaan air baik secara kuantitas maupun kualitas.

Citarum merupakan sungai terbesar di Propinsi Jawa Barat. DAS Citarum yang cukup luas terbagi dalam 3 daerah yaitu daerah hulu, tengah, dan hilir. Dari hulunya yang terletak di Gunung Wayang (Kabupaten Bandung), Citarum mengalir sepanjang 350 kilometer hingga berakhir di hilir di daerah Tanjung (Kabupaten Kerawang). Ketiga daerah tersebut dihubungkan oleh tiga waduk besar yaitu Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Sungai Citarum berperan penting bagi kehidupan sosial ekonomi khususnya di Jawa Barat dan DKI Jakarta. Selain sebagai sumber air minum, irigasi pertanian, perikanan, pembangkit tenaga listrik, Citarum juga sebagai pemasok air utama untuk kegiatan industri.

Kondisi DAS Citarum pada saat ini mengalami penurunan yang ditandai dengan meningkatnya bencana banjir dan longsor pada musim hujan, serta kekeringan pada musim kemarau. Bencana – bencana tersebut selain karena faktor alami seperti iklim dan curah hujan yang ekstrim dapat juga terjadi karena faktor manusia seperti penggunaan lahan.

Tabel 1.. Perubahan hasil air DAS Citarum dari tahun 2002-2009

Tahun

Curah hujan

(juta m3/th)

a

Hasil air i

(juta m3/th)

b

a-b

(juta m3/th)

c

H-A normal

(juta m3/th)

d

Hasil air normal

(juta m3/th)

d

Perubahan hasil air

(juta m3/th)

e

2002

11068.84

5540.19

5528.65

5528.65

5540.19

0.00

2003

8559.36

4294.46

4264.90

5528.65

3030.71

1263.75

2004

9384.94

4743.05

4641.89

5528.65

3856.29

886.77

2005

11174.92

5749.09

5425.83

5528.65

5646.27

102.82

2006

6589.32

3785.83

2803.49

5528.65

1060.67

2725.16

2007

9870.75

5109.41

4761.34

5528.65

4342.10

767.31

2008

10430.34

5120.80

5309.54

5528.65

4901.69

219.11

2009

11385.47

5535.64

5849.84

5528.65

5856.82

-321.18

Hasil analisis Indeks Penggunaan Air kebutuhan irigasi berdasarkan pemenuhan dari DAS Citarum disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Indeks Penggunaan Air (IPA) irigasi dengan sumber air langsung dari DAS Citarum, tahun 2002-2009

Tahun

Kebutuhan irigasi

(juta m3/th)

Penyediaan air dari DAS

(juta m3/th)

IPA

DAS

2002

4412.23

2760.49

1.60

2003

4367.88

2950.46

1.48

2004

4160.53

2691.05

1.55

2005

3795.94

3240.85

1.17

2006

4372.24

2131.08

2.05

2007

4172.18

3023.75

1.38

2008

4319.00

2696.38

1.60

2009

3826.28

3178.57

1.20

Nilai Indeks penggunaan air irigasi seperti pada Tabel 2 menunjukkan bahwa dari tahun 2002-2009 nilai permintaan air irigasi lebih tinggi dibanding ketersediaannya. Hal ini dapat dimengerti karena pada saat musim hujan banyak air yang terbuang dan tidak dapat dimanfaatkan kembali saat musim kemarau. Gambaran umum mengenai kelebihan air pada musim hujan disajikan pada

Tabel 3. Surplus Air DAS Citarum, tahun 2002-2009

Bulan

Kebutuhan air irigas (juta m3/bulan) untuk tiap tahun

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

Jan

716.59

31.68

361.29

376.24

498.53

0

187.71

263.57

Feb

536.98

496.00

367.00

761.57

564.38

526.85

123.38

556.08

Mar

695.49

485.98

522.64

667.02

68.96

247.89

655.10

610.72

Apr

538.54

42.72

328.57

409.16

239.34

610.36

464.96

433.06

Mei

273.03

192.28

Juni

5.92

Juli
Ags
Sept

60.67

Okt

42.76

Nov

250.46

567.58

134.94

Des

292.11

244.87

199.46

233.57

283.55

450.10

425.69

160.48

Surplus

2779.70

1344.00

2052.00

2508.23

1654.75

2085.66

2424.42

2357.07

Gambaran pada Tabel 3 menunjukkan tingginya potensi air DAS Citarum yang tidak termanfaatkan dengan baik atau terbuang ke laut sedangkan fluktuasi musiman yang tidak dapat dihindari telah memberikan indikasi akan kurangnya pasokan air pada saat musim kemarau. Kenyataan ini dapat terlihat dari defisit air DAS Citarum yang disajikan pada Tabel 4 dengan asumsi yang digunakan untuk mendapatkan nilai ini adalah ketika hasil air DAS lebih kecil dari kebutuhan irigasi.

Tabel 4. Defisit air DAS Citarum, tahun 2002-2009

Bulan

Kebutuhan air irigas (juta m3/bulan) untuk tiap tahun

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

Jan

-36.66

Feb
Mar
Apr
Mei

-178.11

-80.49

-124.35

-104.93

-27.37

-170.54

Juni

-339.37

-483.23

-310.15

-51.89

-404.47

-155.73

-458.35

Juli

-190.63

-481.76

-334.77

-184.64

-482.70

-364.32

-504.48

-360.11

Ags

-228.24

-257.99

-274.43

-121.16

-314.94

-282.71

-256.91

-240.87

Sept

-181.53

-1.65

-47.90

-173.22

-126.39

-112.23

-21.63

Okt

-274.28

-326.18

-27.74

-345.88

-155.26

-120.11

-25.10

Nov

-259.58

-112.31

-176.05

-45.31

-415.02

Des

Informasi pada Tabel 4 menunjukkan bahwa defisit air umumnya terjadi pada bulan Mei sampai November. Pengelolaan terhadap sumber daya air secara seksama sangatlah diperlukan untuk mengatasi angka defisit ini sehingga tidak menimbulkan penurunan nilai produksi hasil pertanian pada tingkat petani. Berkaitan dengan kondisi ini maka peranan waduk sangat diperlukan untuk menjadi penyeimbang antara kelebihan air pada saat musim hujan dan kekurangan air saat musim kemarau.

DAFTAR PUSTAKA :

Salwati. 2004. Kajian Dampak Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Respons Hidrologi Sub DAS Cilalawi – DAS Citarum, Jawa Barat Menggunakan Model AGNPS. [Tesis]. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor

Tukayo, Rudolf Kristian. 2011. Perubahan Penggunaan Lahan Das Citarum dan Dampaknya terhadap Suplai Air Irigasi. [Tesis]. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor

Sensitivitas Tanaman Tebu terhadap Kekeringan

Sensitivitas Tanaman Tebu terhadap Kekeringan

Ifah Latifah

Tanaman tebu ( Saccharum officinarum L. ) merupakan salah satu bahan baku utama untuk membuat gula putih dan bioetanol. Di Indonesia, budidaya tebu telah berkembang di lahan kering dan marginal baik di Jawa maupun luar Jawa. Hal ini disebabkan lahan tebu di areal persawahan semakin menyusut. Permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan tanaman tebu pada lahan kering saat musim kemarau ialah kekeringan pada saat fase kritis tanaman (fase pembentukan tunas dan pertumbuhan vegetatif).

Adanya periode-periode kekurangan air dalam masa pertumbuhan dan perkembangan tanaman mengakibatkan tanaman tebu menderita cekaman kekeringan sehingga produktivitas tanaman dari musim ke musim sangat berfluktuatif, bahkan menurun tajam bila kemarau panjang terjadi. Menurut Irrianto (2003), kehilangan hasil pada tanaman tebu akibat cekaman kekeringan secara kuantitatif dapat mencapai 40% dari potensi produksinya apabila terjadi pada fase kritis tanaman yaitu fase pertumbuhan tunas dan pertumbuhan vegetatif tanaman (sampai dengan umur 165 hari setelah tanam). Pada tahun 2005, ribuan hektar tanaman tebu milik petani di Jawa Barat mati karena kekeringan menyusul terjadinya kemarau panjang. Akibat kemarau panjang sedikitnya 30% tanaman tebu di wilayah Jawa Barat mati kekeringan (Nunung, 2006).

Kekurangan air akan mengganggu aktifitas fisiologis maupun morfologis, sehingga mengakibatkan terhentinya pertumbuhan. Defisiensi air yang terus menerus akan menyebabkan perubahan irreversibel (tidak dapat balik) dan pada gilirannya tanaman akan mati (Haryati, 2008). Respon tanaman terhadap stres air sangat ditentukan oleh tingkat stres yang dialami dan fase pertumbuhan tanaman saat mengalami cekaman. Respon tanaman yang mengalami cekaman kekeringan mencakup perubahan ditingkat seluler dan molekuler seperti perubahan pada pertumbuhan tanaman, volume sel menjadi lebih kecil, penurunan luas daun, daun menjadi tebal, adanya rambut pada daun, peningakatan ratio akar-tajuk, sensitivitas stomata, penurunan laju fotosintesis, perubahan metabolisme karbon dan nitrogen, perubahan produksi aktivitas enzim dan hormon, serta perubahan ekspresi (Sinaga, 2008).

Tumbuhan merespon kekurangan air dengan mengurangi laju transpirasi untuk penghematan air. Terjadinya kekurangan air pada daun akan menyebabkan sel-sel penjaga kehilangan turgornya. Suatu mekanisme kontrol tunggal yang memperlambat transpirasi dengan cara menutup stomata. Kekurangan air juga merangsang peningkatan sintesis dan pembebasan asam absisat dari sel-sel mesofil daun. Hormon ini membantu mempertahankan stomata tetap tertutup dengan cara bekerja pada membran sel penjaga. Daun juga berespon terhadap kekurangan air dengan cara lain. Karena pembesaran sel adalah suatu proses yang tergantung pada turgor, maka kekurangan air akan menghambat pertumbuhan daun muda. Respon ini meminimumkan kehilangan air melalui transpirasi dengan cara memperlambat peningkatan luas permukaan daun. Ketika daun dari kebanyakan rumput dan kebanyakan tumbuhan lain layu akibat kekurangan air, mereka akan menggulung menjadi suatu bentuk yang dapat mengurangi transpirasi dengan cara memaparkan sedikit saja permukaan daun ke matahari (Campbell, 2003).

Kedalaman perakaran sangat berpengaruh terhadap jumlah air yang diserap. Pada umumnya tanaman dengan pengairan yang baik mempunyai sistem perakaran yang lebih panjang daripada tanaman yang tumbuh pada tempat yang kering. Rendahnya kadar air tanah akan menurunkan perpanjangan akar, kedalaman penetrasi dan diameter akar (Haryati, 2006). Hasil penelitian Nour dan Weibel tahun 1978 menunjukkan bahwa kultivarkultivar sorghum yang lebih tahan terhadap kekeringan, mempunyai perkaran yang lebih banyak, volume akar lebih besar dan nisbah akar tajuk lebih tinggi daripada lini-lini yang rentan kekeringan (Goldsworthy dan Fisher, dalam Haryati, 2006).

Senyawa biokimia yang dihasilkan tanaman sebagai respon terhadap kekeringan dan berperan dalam penyesuaian osmotik bervariasi, antara lain gula-gula, asam amino, dan senyawa terlarut yang kompatibel. Senyawa osmotik yang banyak dipelajari pada toleransi tanaman terhadap kekeringan antara lain prolin, asam absisik, protein dehidrin, total gula, pati, sorbitol, vitamin C, asam organik, aspargin, glisin-betain, serta superoksida dismutase dan K+ yang bertujuan untuk menurunkan potensial osmotik sel tanpa membatasi fungsi enzim (Sinaga, 2008).

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, at al. 2003. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Haryati. 2008. Pengaruh Cekaman Air Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman http://library.usu.ac.id/download/fp/hslpertanian-haryati2.pdf. Diakses pada tanggal 5 Juli 2009.

Hidayat. 2002. Cekaman Pada Tumbuhan. http://www.scribd.com/document_downloads/ 13096496?extension=pdf&secret_password=. Diakses pada tanggal 5 Juli 2009.

Irrianto,G. 2003. Tebu Lahan Kering dan Kemandirian Gula Nasional. Tabloid Sinar Tani. 20 Agustus : 5-8

Nunung,A. 2006. Ribuan Hektar Tebu Mati. Pikiran Rakyat, 6 Nopember

Sinaga. 2008. Peran Air Bagi Tanaman. http://puslit.mercubuana.ac.id/file/8Artikel %20Sinaga.pdf. Diakses pada tanggal 5 Juli 2009.

MANAGEMENT ALLOWABLE DEPLETION (MAD) LEVEL UNTUK PENJADWALAN IRIGASI TANAMAN CABAI PADA TANAH TYPIC KANHAPLUDULT LAMPUNG

MANAGEMENT ALLOWABLE DEPLETION (MAD) LEVEL UNTUK PENJADWALAN IRIGASI

TANAMAN CABAI PADA TANAH TYPIC KANHAPLUDULT LAMPUNG

 

Ifah Latifah

 A.      Latar Belakang

 

Pemberian air irigasi yang efisien harus sesuai dengan kebutuhan tanaman (crop water requirement), yang dapat dilaksanakan melalui penggunaan Kapasitas Air Tersedia (Available Water Capacity), sebagai dasar perhitungan kebutuhan air. Selama ini kadar air sebesar 50%  air tersedia dijadikan sebagai dasar umum untuk memberikan air irigasi. Namun, dasar ini dianggap tidak tepat untuk diterapkan pada tanah liat yang memiliki sifat mengembang dan mengkerut (type liat 2:1), serta tanah pasir (Withers and Vipond, 1974).

Untuk menentukan jumlah dan frekuensi pemberian air irigasi, terlebih dahulu perlu diketahui nilai batas penurunan kadar air tersedia yang msaih mampu menghasilkan efisiensi penggunaan air (water use efficiency/WUE) yang optimal. Pendekatan tersebut dinamakan Management Allowable Depletion (MAD), adalah derajat kekeringan tanah yang masih diperbolehkan untuk menghasilkan produksi tanaman yang optimal (James, 1988 dalam Haryati, 2010). MAD diperlukan untuk menentukan waktu, jumlah dan frekuensi pemberian irigasi serta diperlukan teknik pendistribusian air (teknik irigasi suplemen) yang efektif dan efisien dalam pelaksanaannya.

B.      Bahan dan Alat

Seluruh data yang disajikan dalam paper ini diambil dari hasil penelitiannya Umi Haryati (2010) yang bertujuan untuk menentukan kedalaman/jumlah dan interval  pemberian air irigasi yang optimum meningkatkan efisiensi penggunaan air (WUE). Penelitian mencakup tiga tahapan yaitu : (1) penetapan kadar air untuk masing-masing perlakuan tingkat MAD, (2) penetapan kedalaman dan interval irigasi, (3) perhitungan efisiensi penggunaan air (WUE).

 C.      Metode

Penetapan kadar air untuk masing-masing perlakuan tingkat MAD dilakukan dengan cara membagi kapasitas air tersedia /KAT (%vol) ke dalam 5 bagian (20, 40, 60, 80, dan 100%) yang nantinya akan dipakai untuk menentukan pemberian air (volume dan frekuensi) pada saat kadar air menurun sampai tingkat MAD masing-masing perlakuan.

Kedalaman dan interval irigasi ditentukan berdasarkan data kadar air/tensiometer pada setiap pertumbuhan maksimum perakaran tanaman sebagai berikut.

W = ((θtcMAD)/100) x D

W adalah jumlah air yang ditambahkan (mm), θtc dan θMAD masing-masing adalah kadar air (% volume) pada kapasitas lapang dan kadar air pada level MAD yang dicobakan, dan D adalah kedalaman akar (mm). Setelah level MAD yang diinginkan tercapai (diindikasikan dengan potensial air pada setiap perlakuan), kemudian pemberian air irigasi dilakukan hingga batas kapasitas lapang. Ada 2 sumber air irigasi yang digunakan yaitu berasal dari embung (air permukaan) dan air tanah. Kedua air tersebut mempunyai kualitas yang berbeda (dari penelitian/analisa pendahuluan diketahui kedua jenis air tersebut mempunyai kandungan lumpur yang berbeda). Hal tersebut akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan selanjutnya berpengaruh terhadap efisiensi penggunaan air.

Pompa air berkekuatan 5pK digunakan untuk mengalirkan air dari sumber air ke areal pertanaman dengan system sprinkle dengan nozzle dipasang pada ketinggian 1.50 m. Tanaman indikator adalah cabai merah varietas TM 99. Petak percobaan berukuran 5 m x 10 m, menggunakan rancangan petak terpisah (Split-plot design) dengan 3 ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah :

Petak utama (A) : sumber air irigasi

A1 = air tanah

A2 = air permukaan

Anak petak (I) : level MAD

I1 = 20% air tersedia

I2 = 40% air tersedia

I3 = 60% air tersedia

I4 = 80% air tersedia

I5 = 100% air tersedia

Untuk memperjelas pemberian air pada setiap level/taraf MAD, maka irigasi diberikan pada saat kadar air dalam tanah mencapai 20, 40, 60, 80 % air tersedia atau kehilangan air dalam tanah mencapai 80, 60, 40, dan 20 % dari air tersedia, masing-masing untuk I1, I2, I3, dan I4. Untuk I5 irigasi diberikan setiap hari, sampai mencapai kapasitas lapang (100% air tersedia).

Level MAD optimum dicapai apabila memenuhi kriteria :

  1. Memberikan fluktuasi tegangan air tanah yang berada pada tegangan kapasitas lapang atau lebih rendah
  2. Memberikan pertumbuhan tanaman yang optimum
  3. Memberikan hasil tanaman yang optimum
  4. Memberikan WUE yang paling tinggi

Pupuk dasar urea, SP-36, dan KCL diberikan masing-masing sebanyak 300, 150, dan 100 kg/ha, serta pupuk kandang 10 t/ha.

Untuk penetapan jadwal irigasi dalam rangka meningkatkan efisiensi penggunaan air (WUE), hubungan kedua faktor tersebut ditentukan untuk masing-masing perlakuan. Efisiensi penggunaan air dihitung dengan tahapan-tahapan sebagai berikut.

adalah perubahan cadangan air tanah (mm), P adalah curah hujan (mm), I adalah jumlah pemberian air irigasi (mm),  adalah evapotranspirasi (mm),  adalah flux air tanah pada kedalaman perakaran (mm)/perkolasi, dan R adalah run-off (mm). Percobaan dilaksanakan di lahan kering dan pada musim kemarau sehingga tidak pernah jenuh air dan topografinya relatif datar, akibatnya komponen  (perkolasi) dan R (run-off) menjadi tidak ada (nol), sehingga persamaan di atas menjadi :

Perubahan cadangan air tanah pada kedalaman pemberian air irigasi dihitung sebagai berikut :

adalah perubahan cadangan air tanah (mm),  adalah cadangan air tanah pada waktu tertentu (mm),  adalah kadar air tanah pada basis volume (cm3/cm3) dan dz adalah kedalaman irigasi (mm). Jumlah air yang dibutuhkan tanaman (water use) dihitung sebagai berikut :

WU (ETcr) = (P+I) –

WU adalah jumlah air yang dibutuhkan tanaman (mm). Efisiensi penggunaan air (water use efficiency/WUE) adalah hasil yang diperoleh dari setiap unit pemberian air irigasi, dan dihitung sebagai berikut :

WUE = Hasil/WU

Perlakuan diaplikasikan pada saat tanaman berumur 2-3 minggu di lapangan, sedangkan sebelumnya irigasi yang diberikan hanya berupa pemeliharaan dan jumlahnya sama untuk setiap plot percobaan.

D.      Hasil dan Pembahasan

 

–          Kapasitas lapang yang diukur di lapangan dengan metode drainase internal dicapai pada matrik potensial ± 70 mBar

–          Hasil pengukuran kadar air pada kondisi tersebut adalah 23.5% volume

–          Jumlah air tersedia yang diperoleh dari kurva pF hasil analisa laboratorium adalah 8%

Sehingga :

Nilai kadar air pada perlakuan MAD 20% air tersedia adalah :

23.5% – (80% x 8%) = 17.1%

Nilai kadar air pada perlakuan MAD 40% air tersedia adalah :

23.5% – (60% x 8%) = 18.7%

Nilai kadar air pada perlakuan MAD 60% air tersedia adalah :

23.5% – (40% x 8%) = 20.3%

Nilai kadar air pada perlakuan MAD 80% air tersedia adalah :

23.5% – (20% x 8%) = 21.9%

Nilai kadar air pada perlakuan MAD 100% air tersedia adalah :

23.5% – (0% x 8%) = 23.5%

Kadar air berasosiasi dengan tegangan air yang terbaca pada tensiometer yang selanjutnya dipakai sebagai dasar pemberian irigasi masing-masing perlakuan level MAD. Irigasi diberikan pada saat kadar air yang diinginkan untuk masing-masing level MAD tercapai yang diindikasikan oleh nilai tegangan air tanah yang terbaca pada tensiometer. Irigasi diberikan pada saat tensiometer menunjukkan angka 572.0; 292.5; 158.0; 89.4; dan 63.0 mBar dengan volume pemberian air irigasi sebanyak 960, 720, 480, 240, dan 160 l/plot masing-masing untuk level MAD 20, 40, 60, 80, dan 100% air tersedia.

Volume air irigasi yang diberikan tergantung kepada banyaknya air tersedia dalam tanah. Air tersedia semakin tinggi dengan semakin tingginya level MAD dan berbanding terbalik dengan volume air irigasi yang harus diberikan setiap kali penyiraman (Tabel 1). Hal ini karena semakin tinggi level MAD, semakin tinggi kadar air yang harus dipertahankan di dalam tanah, sehingga air tersedia semakin tinggi. Dengan demikian volume irigasi yang harus diberikan setiap kali pemberian menjadi semakin rendah, dengan semakin tingginya level MAD.

Tabel 1. Air tersedia, kadar air, pF, tegangan air tanah dan irigasi yang diberikan pada setiap perlakuan MAD pada tanah Typic Kanhapludult Tamanbogo, Lampung Timur

Level MAD

AT (mm)

KA *)

(% vol)

pF

TA

(mBar)

Irigasi

(l/plot)

20% AT (I1)

4.8

17.1

2.77

572.0

960

40% AT (I2)

9.6

18.7

2.47

292.5

720

60% AT (I3)

14.4

20.3

2.21

158.0

480

80% AT (I4)

19.2

21.9

1.96

89.4

240

100% AT (I5)

24.0

23.5

1.85

70.0

160

Keterangan : *) kedalaman 30 cm, AT = air tersedia, KA = kadar air, TA = tegangan air tanah

 

Volume dan Jadwal Pemberian Irigasi

Sumber air irigasi tidak berpengaruh terhadap volume irigasi yang diberikan, sedangkan level MAD berpengaruh nyata terhadap volume irigasi yang diberikan selama satu musim tanam. Semakin tinggi level MAD, semakin tinggi jumlah air yang harus diberikan (Tabel 2). Ini karena semakin tinggi level MAD, kadar air yang harus dipertahankan dalam tanah semakin tinggi, sehingga interval irigasi semakin pendek atau irigasi semakin sering diberikan, akibatnya total pemberian air selama satu musim semakin tinggi.

Tabel 2. Jumlah irigasi yang diberikan untuk masing-masing pelakuan MAD selama satu musim tanam cabai pada tanah Typic Kanhapludult Tamanbogo, Lampung Timur

Level MAD

Sumber air irigasi

Rata-rata

Air tanah (A1)

Air permukaan (A2)

(mm)

20% AT (I1)

71.4

71.3

71.4 e

40% AT (I2)

119.4

119.4

119.4 d

60% AT (I3)

247.3

229.1

238.2 c

80% AT (I4)

423.8

396.3

410.0 b

100% AT (I5)

490.3

464.4

477.4 a

Rata-rata

270.4 A

256.1 A

Keterangan : Angka yang diikuti huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama atau huruf besar pada baris yang sama berbeda pada taraf 5% DMRT

Interval pemberian irigasi berhubungan erat dengan volume irigasi yang harus diberikan untuk mencapai kapasitas lapang pada masing-masing perlakuan MAD. Pada saat kapasitas lapang, air tersedia adalah 24 mm (8% volume x 30 cm) untuk kedalaman perakaran 30 cm. Dengan demikian irigasi yang harus diberikan adalah 19.2; 14.4; 9.6; 4.8; dan 3.2 mm masing-masing untuk perlakuan MAD 20, 40, 60, 80, dan 100 % air tersedia (Tabel 3).

Besarnya evapotranspirasi adalah 2.3, 2.5, 2.9, 3.8, dan 4.2 mm masing-masing untuk perlakuan MAD 20, 40, 60, 80, dan 100% air tersedia. Selang pemberian irigasi adalah volume irigasi yang harus diberikan per pemberian (mm) dibagi evapotranspirasi (mm/hari). Interval pemberian irigasi yaitu 8, 6, 3, dan 1 hari, masing-masing untuk level MAD 20, 40, 60, 80, dan 100% air tersedia (apabila tidak ada hujan). Level MAD 80 dan 100% air tersedia mempunyai interval yang tidak berbeda (Tabel 3). Apabila turun hujan, angka pada tensiometer sebagai pedoman level MAD dipakai sebagai dasar untuk penyiraman.

Tabel 3. Irigasi, evapotranspirasi dan interval irigasi untuk tanaman cabai pada setiap level MAD pada tanah Typic Kanhapludult Tamanbogo, Lampung Timur

Level MAD

Irigasi (mm)

ETcr (mm/hari)

Interval Irigasi (hari)

20% AT (I1)

19.2

2.3

8

40% AT (I2)

14.4

2.5

6

60% AT (I3)

9.6

2.9

3

80% AT (I4)

4.8

3.8

1

100% AT (I5)

3.2

4.2

1

Keterangan : ETcr = evapotranspirasi

 

Fluktuasi Tegangan Air Tanah

Level MAD terlihat berpengaruh terhadap fluktuasi tegangan air tanah (Gambar 1). Apabila membandingkan Gambar 1a sampai 1e, terliahat bahwa perlakuan level MAD 60% air tersedia (I3) (Gambar 1c), mempunyai fluktuasi yang paling rendah berkisar pada nilai < 50 sampai 300 mBar, dengan rata-rata 38 mBar. Berdasarkan kurva pF, kondisi kapasitas lapang berada pada pF 2.54 atau setara dengan ± 300 mBar, sehingga ini merupakan kondisi tegangan air pada kapasitas lapang (±300 mBar) sedangkan pada perlakuan level MAD 20% (I1) dan 40% air tersedia (I2), ada periode dimana tegangan air berada pada kisaran yang melebihi tegangan air pada kondisi kapasitas lapang (>300 mBar). Hal ini akan berpengaruh pada kemampuan akar tanaman untuk mengekstrak air dari tanah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada perlakuan level MAD 100% air tersedia (I5) serta hampir selalu mempunyai nilai yang paling tinggi diantara perlakuan level MAD lainnya (Tabel 4). Hal ini karena pada perlakuan level MAD 60% air tersedia (I3) sampai 100% air tersedia (I5) tanaman mendapatkan tambahan air yang konstan dalam interval yang tidak terlalu lama. Selain itu pada level MAD 60 sampai 100% air tersedia tidak terjadi cekaman air yang diindikasikan oleh fluktuasi tegangan air tanah yang berada di sekitar kapasitas lapang.

Hasil Tanaman

Tidak terjadi interaksi yang nyata antara sumber air irigasi dan level MAD terhadap fluktuasi hasil tanaman cabai. Sumber air irigasi tidak berpengaruh nyata terhadap fluktuasi  hasil panen cabai sampai dengan panen ke-7, namun pada panen ke-8, pemberian irigasi dengan air permukaan (A2) meningkatkan bobot segar buah cabai dan berbeda nyata dibandingkan dengan pemberian irigasi dengan air tanah (A1) (Gambar 2). Panen cabai mencapai puncaknya pada panen ke-6, setelah itu menurun sampai panen ke-8. Pada pemberian irigasi dengan air tanah, penurunan tersebut sangat drastis , hal ini karena jumlah unsur hara yang disumbangkan selama penyiraman tidak sebanyak air permukaan. Air permukaan banyak mengandung lumpur yang mengandung unsur hara yang diperlukan tanaman. Pada saat kandungan lumpur lebih rendah pun (32 mg/l) kandungan total haranya masih cukup tinggi, yaitu 11.61 mg/l yang terdiri dari kation-kation K, Ca, Mg, Na, Fe, Al, Mn, dan 0.21 mg/l anion PO4.

Tabel 4. Pengaruh sumber air irigasi dan level MAD terhadap tinggi tanaman cabai pada tanah Typic Kanhapludult Tamanbogo, Lampung Timur

Perlakuan

Umur tanaman (MST)

4

6

8

10

14

16

19

Sumber air irigasi
Air tanah (A1) 15.3 A 22.2 A 38.4 A 42.3 A 43.5 A 45.3 A 46.4 A
Air permukaan (A2) 14.5 A 21.3 A 39.7 A 43.4 A 46.1 A 46.5 A 48.1 A
Level MAD
20% AT (I1) 15.1 a 21.6 a 39.3 a 42.8 ab 45.7 ab 46.3 ab 47.6 ab
40% AT (I2) 14.7 a 21.6 a 38.6 a 42.8 ab 44.3 ab 46.0 ab 47.1 ab
60% AT (I3) 14.9 a 21.6 a 40.0 a 44.6 a 47.1 a 48.4 a 49.2 a
80% AT (I4) 15.2 a 22.5 a 39.7 a 43.7 ab 44.2 ab 44.5 b 47.3 ab
100% AT (I5) 14.9 a 21.5 a 37.9 a 40.7 b 42.7 b 44.3 b 45.0 b

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf besar atau huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada taraf 5% DMRT, MST = minggu setelah tanam

 

Gambar 3 memperlihatkan pengaruh perlakuan level MAD terhadap fluktuasi hasil panen cabai. Level MAD berpengaruh nyata terhadap bobot segar buah cabai pada panen ke 2 sampai panen ke 8. Panen cabai mencapai puncaknya pada panen ke-6 untuk semua perlakuan level MAD, kecuali pada level MAD 100% air tersedia (I5), tetapi berbeda dengan perlakuan level MAD 20% (I1) dan 40% air tersedia (I5) dan berbeda terhadap perlakuan lainnya. Hal tersebut juga dapat dilihat pada Tabel 5 yang menunjukkan bahwa pemberian air permukaan (A2) meningkatkan produksi total cabai dan berbeda nyata dibandingkan air tanah (A1). Hal ini menunjukkan bahwa air permukaan dapat dijadikan alternatif dan cukup potensial sebagai sumber air irigasi karena mempunyai kualitas kimiawi yang lebih baik dari air tanah. Meskipun demikian, air tanah juga dipakai sebagai air irigasi. Namun penggunaan air tanah yang berlebihan tanpa disertai usaha untuk recharge air tanah, tidak akan efektif untuk memecahkan masalah peningkatan permukaan air tanah (Jhohar et al., 2009).

Level MAD berpengaruh nyata terhadap produksi total cabai (Tabel 5). Level MAD 100% air tersedia (I5) memberikan hasil yang tertinggi dan tidak berbeda dengan level MAD 80% air tersedia (I4) tetapi berbeda dengan perlakuan level MAD lainnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penjadwalan irigasi yang mempertahankan kadar air di sekitar kapasitas lapang telah terbukti menghasilkan produksi dan N-uptake yang maksimum pada tanaman sayuran.

Hasil tanaman cabai menurun dengan menurunnya level MAD, karena adanya periode cekaman air sehingga tanaman mengalami stress air. Dalla Costa dan Gianquinto (2002) menunjukkan bahwa stress air secara kontinyu, nyata menurunkan berat segar buah cabai. Tanaman cabai memberikan hasil dengan mutu pasar yang terbaik pada irigasi 120% evapotranspirasi (ET), dan terendah pada 40% ET. Tidak terdapat perbedaan mutu pasar yang nyata antara pemberian irigasi dengan 60, 80, dan 100% ET.

Secara umum, semakin tinggi level MAD, hasil tanaman semakin meningkat, namun peningkatan tersebut tidak berbeda lagi setelah perlakuan level MAD 60% air tersedia (I3) (Tabel 5). Dengan demikian, level MAD 60% air tersedia (I3)merupakan perlakuan yang paling optimum pengaruhnya terhadap hasil tanaman cabai. Hal ini berarti air suplemen sebaiknya diberikan ketika air tersedia baru hilang 40%, karena kadar air tanah yang lebih rendah dapat menurunkan tingkat pertumbuhan dan hasil panen cabai.

Tabel 5. Pengaruh sumber air irigasi dan level MAD terhadap produksi total buah segar cabai pada tanah Typic Kanhapludult Tamanbogo, Lampung Timur

Level MAD

Total produksi buah segar t/ha)

Rata-rata

Air tanah (A1)

Air permukaan (A2)

20% AT (I1)

0.84

0.96

0.90 d

40% AT (I2)

0.94

1.10

1.02 c

60% AT (I3)

1.26

1.37

1.32 b

80% AT (I4)

1.20

1.47

1.34 ab

100% AT (I5)

1.35

1.53

1.44 a

Rata-rata

1.12 A

1.29 B

Keterangan : angka yang diikuti huruf besar yang berbeda pada baris yang sama dan huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama berbeda pada taraf 5% DMRT

Neraca Air di Zona Perakaran, Perubahan Cadangan Air Tanah dan Penggunaan Air Tanaman (Crop Water Use)

Perubahan cadangan air pada masing-masing level MAD berbeda dan pada level MAD 20% dan 40% air tersedia, total perubahan cadangan air selama pertanaman bernilai negatif (Tabel 6). Ini berarti cadangan air di dalam tanah tidak mencukupi sehingga memerlukan tambahan air berupa irigasi dan atau curah hujan. Pada level MAD 20% air tersedia (I1) kebutuhan tambahan air tersebut lebih besar dibandingkan level MAD 40% air tersedia (I2). Perubahan cadangan air pada level MAD 60% air tersedia (I3) memberikan nilai positif dan paling tinggi dibandingkan level MAD lainnya. Ini berarti, pada level tersebut, kebutuhan air tanaman masih dapat disuplai dari cadangan air tanah. Pada irigasi dengan level MAD 80% air tersedia (I4), cadangan air tanah yang dapat disuplai untuk memenuhi kebutuhan air tanaman kembali menurun dan jauh lebih kecil, dan pada level MAD 100% air tersedia (I5), perubahan cadangan air menjadi negative lagi. Ini berarti pemberian air irigasi pada level MAD 80% (I4) dan level MAD 100% air tersedia (I5) sudah tidak efisien lagi.

Penggunaan air tanaman atau konsumsi air tanaman (evapotranspirasi) dihitung melalui persamaan keseimbangan air di zona perakaran yaitu : WU (ETcr) = (P+I)-ΔS, dimana WU (ETcr) adalah jumlah air konsumtif tanaman, P adalah curah hujan, I adalah volume irigasi yang diberikan dan ΔS adalah perubahan cadangan air dalam tanah (0-20 cm).

Semakin tinggi level MAD, semakin tinggi penggunaan air oleh tanaman atau evapotranspirasi (Tabel 6). Hal ini karena semakin tinggi level MAD, semakin tinggi dan semakin sering irigasi diberikan. Dengan demikian semakin banyak air yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman, sehingga evapotranspirasi pun menjadi lebih tinggi/Level MAD 100% air tersedia (I5) memberikan evapotranspirasi yang tertinggi dan level MAD 20% air tersedia (I1) yang paling rendah. Evapotranspirasi dari yang terendah sampai yang paling tinggi berturut-turut adalah pada perlakuan level MAD 20, 40, 60, 80, dan 100% air tersedia.

Gambar 1. Fluktuasi tegangan air tanah dan irigasi untuk masing-masing level MAD serta curah hujan selama pertanaman cabai pada tanah Typic Kanhapludults Tamanbogo, Lampung Timur

Gambar 2. Pengaruh sumber air irigasi terhadap hasil cabai, pada tanah Typic Kanhapludults Tamanbogo, Lampung Timur

Gambar 3. Pengaruh level MAD terhadap hasil cabai pada tanah Typic Kanhapludults Tamanbogo, Lampung Timur

Tabel 6. Neraca air di zona perakaran dan penggunaan air tanaman cabai (kedalaman 0-20 cm) pada tanah Typic Kanhapludult Tamanbogo, Lampung Timur

Level MAD

Neraca air di zona perakaran

WU (mm)

P (mm)

I (mm)

ΔS (mm)

20% AT (I1)

355.0

71.4

-30.9

457.4

40% AT (I2)

355.0

119.4

-17.9

492.4

60% AT (I3)

355.0

238.2

20.5

572.7

80% AT (I4)

355.0

410.0

8.6

756.4

100% AT (I5)

355.0

477.4

-4.5

836.8

Keterangan : P = curah hujan, I = Irigasi, ΔS = perubahan cadangan air dalam tanah, WU = (P+I)- ΔS

 

Efisiensi Penggunaan Air (Water Use Efficiency = WUE)

Efisiensi penggunaan air untuk setiap level MAD disajikan pada Tabel 7. Efisiensi penggunaan air meningkat sampai level MAD 60% air tersedia (I3) dan setelah itu pada level 80% (I4) dan 100% air tersedia (I5) menurun, bahkan pada level MAD 100% air tersedia, efisiensi penggunaan air mencapai nilai terendah. Hal ini karena pada level tersebut, air yang digunakan lebih banyak tetapi peningkatan pemberian atau penggunaan air tidak sebanding dengan peningkatan hasil, sehingga efisiensinya menurun. Dengan demikian peningkatan level MAD tidak selalu meningkatkan efisiensi penggunaan air. Demikian pula halnya dengan penggunaan air (evapotranspirasi), peningkatan efisiensi penggunaan air (WUE). Pada perlakuan level MAD 60% air tersedia (I3), efisiensi penggunaan mencapai nilai tertinggi. Ini berarti perlakuan level MAD 60% air tersedia (I3) memberikan tingkat efisiensi penggunaan air yang paling optimum dibandingkan perlakuan level MAD lainnya.

Tabel 7. Pengaruh sumber air irigasi dan level MAD terhadap efisiensi penggunaan air tanaman cabai pada tanah Typic Kanhapludult Tamanbogo, Lampung Timur

Perlakuan

WU

Hasil

WUE

 

m3/ha

Kg/ha

Kg/m3

Sumber air irigasi
Air tanah (A1)

6254.3

1121.3

0.18

Air permukaan (A2)

6111.0

1281.2

0.21

Level MAD
20% AT (I1)

4573.6

901.4

0.20

40% AT (I2)

4923.7

1007.1

0.20

60% AT (I3)

5726.6

1316.7

0.23

80% AT (I4)

7564.0

1341.7

0.18

100% AT (I5)

8368.3

1439.3

0.17

Keterangan : WU = water use, WUE = water use efficiency = Hasil/WU

Level MAD 60% air tersedia memberikan nilai WUE tertinggi dibandingkan perlakuan level MAD lainnya. Hal ini menunjukkan level MAD 60% air tersedia mampu menghemat air. Penghematan air sebanyak 264 mm/musim tanam atau kurang lebih 2 mm/hari, bila dibandingkan dengan level MAD 100% air tersedia.

E.       Kesimpulan

Dengan melihat penetapan waktu, volume dan interval irigasi yang paling hemat air adalah level MAD 60% air tersedia.

DAFTAR PUSTAKA

Dalla Costa, L, and G. Gianquinto. 2002. Water Stress and Watertable Depth Influence Yield, Water Use Efficiency, and Nitrogen Recovery in Bell Pepper : Lysimeter Studies. Aust. J. Agric. Rec. Vol 53 : 201-210

Haryati, Umi. 2010. Peningkatan Efisiensi Penggunaan Air untuk Pertanian Lahan Kering Berkelanjutan Melalui berbagai Teknik Irigasi pada Typic Kanhapludult Lampung. [Tesis]. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor

Jhohar, R.K, A.A.M.F.R. Smit and C.W.J. Roest. 2009. Assessment of Alternative Water Management Option for Irrigated Agriculture. Agric. Water Manage. 96 (2009) 975 – 981. Elsevier. B.V

Withers, B dan S. Vipond. 1974. Irrigation : Design and Practice. Bestford Academic and Educational Limited. London. Pp. 73-74

Aspek Keteknikan Aplikasi Gabion (Bronjong) Untuk Konservasi Lahan dan Air

BAB I. PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Jumlah areal irigasi desa di Indonesia yang mencapai sekitar 28% atau seluas 2.000.000 ha sangat potensial untuk menunjang ketahanan pangan nasional. Namun, kondisi jaringan irigasi desa khususnya bendung banyak yang mengalami kerusakan. Salah satunya adalah jaringan irigasi di Desa Sibayu, kecamatan Balaesang,  Sulawesi Tengah. Kecamatan yang dikategorikan termasuk “miskin” ini mempunyai sarana angkutan yang terbatas dan relatif mahal. Agar dapat mempertahankan atau meningkatkan kualitas irigasi desa diperlukan pembangunan bendung desa yang semi permanen, salah satunya adalah bendung bronjong dengan sekat semikedap air. Pembuatan bendung bronjong ini relatif cepat dan murah serta tidak memerlukan kemampuan teknik yang tinggi sehingga pembuatannya dapat melibatkan masyarakat desa atau perkumpulan petani pemakai air (P3A) setempat.

Dari latar belakang tersebut dicoba untuk meninjau dan merencanakan Bendung Bronjong yang dituangkan dalam suatu Tugas Akhir dengan judul “Perencanaan Bendung Bronjong Di Sungai Palu Desa Sibayu Kecamatan Balaesang Sulawesi Tengah“.

1.2.Rumusan Masalah

Dari sedikit uraian di atas dapat ditarik beberapa point masalah, yaitu :

  1. Bagaimana kondisi eksisting Sungai Palu, yang akan dibangun Bendung Bronjong ?
  2. Bagaimana cara konservasi air untuk ketersediaan air di desa tersebut ?
  3. Bagaimana kestabilan dari bangunan tersebut, terhadap tekanan yang timbul ?

1.3.Tujuan

Tujuan dari pekerjaan ini ialah merencanakan bangunan yang mampu memenuhi kebutuhan air untuk irigasi di desa Sibayu.

 

 

BAB II. PERENCANAAN BENDUNG BRONJONG

 

2.1  Perhitungan debit sungai

Debit banjir rencana (Q10-Q20) berdasarkan hasil penyelidikan lapangan tentang elevasi muka air banjir, penampang melintang rata-rata, dan penampang memanjang sungai. Debit rendah andalan berdasarkan hasil pengukuran lapangan dan ditambah dengan informasi penduduk setempat tentang sebit sungai musim kemarau selama 5 tahun terakhir.

 

Gambar 1. Potongan profil melintang sungai rata-rata

1.  Data teknis :

–          tinggi muka air banjir (H) = 0.80 m

–          tinggi muka air rendah (h) = 0.12 m

–          lebar dasar sungai rata-rata (b) = 5.50 m

–          lebar penampang atas sungai rata-rata (B) = 7.10 m

–          kemiringan dasar sungai (I) = 0,02

–          koefisien kekasaran Strickler (k) = 35

2. Debit banjir (Qb) :

–          keliling basah,  = 7.762 m

–          luas penampang basah, = 5.040 m2

–          jari-jari hidrolik, R = F/O = 0.649 m

–          kecepatan aliran,  = 3.710 m/s

–          debit banjir,  = 18 m3/s

3. Debit minimum (Qm) :

–          luas penampang sungai,  = 0.560 m2

–          kecepatan rata-rata,  = 0.217 m/s

–          debit minimum,  = 0.122 m3/s

2.2  Perhitungan debit pengambilan

Debit pengambilan berdasarkan data luas areal sawah yang akan dialiri serta efisiensi irigasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Hal tersebut penting untung menentukan dimensi pipa pengambilan.

  1. Data teknis :

–          Luas areal sawah yang dialiri (A)            = 15 ha

–          Kebutuhan air (a)                                         = 1.185 l/sec/ha

–          Efisiensi irigasi (Ef)                                       = 60%

  1. Debit pengambilan (Qp) :

= 29.625 l/s  30 l/s

2.3  Perhitungan hidrolik dan stabilitas bendung

Perhitungan hidrolik bendung bronjong mengacu kepada perhitungan hidrolik bangunan terjun tegak. Hal ini mengingat bendung bronjong tersebut tidak dilengkapi dengan pintu penguras dan bentuk mercunya menyerupai terjunan. Sedangkan perhitungan stabilitas bendung didasarkan pada berat sendiri tubuh bendung, tekanan air banjir, dan tekanan lumpur.

  1. Hidrolik bendung :

Gambar 2. Potongan bendung bronjong

  1. Data teknis :

–          Debit banjir (Qb)                          = 18 m3/s

–          Lebar efektif bendung (Bef)        = 7.00 m

–          Percepatan gravitasi (g)                = 9.8 m/s2

  1. Besaran-besaran yang digunakan untuk menghitung hidrolik bendung :

… (1)

… (2)

… (3)

  1. Tinggi muka air udik bendung :

Ha = He = 0.5 m

  1. Kecepatan air di atas Pot U-U diperkirakan :

= 4.427 m/s

  1. Tinggi air di Pot U-U :

Yu = Qb/Bef/vu

= 2.57/4.427 = 0.58

  1. Bilangan Froude (Fru)

=                                       = 2.4

  1. Panjang lantai dari geometri bangunan terjun tegak :

Berdasarkan grafik diperoleh Lp = 2.7 m

Gambar 3. Grafik untuk menentukan panjang lantai bangunan terjun tegak

  1. Ditentukan :
    1. Berat isi bendung bronjong ( )  = 18.5 kN/m3
    2. Berat isi sedimen ( ) = 16.0 kN/m3
    3. Sudut geser dalam ( ) = 30o (disesuaikan dengan jenis tanah, lihat Tabel 1)
    4. Koefisien gesekan (fr) = 0.6

Tabel 1. Sudut gesekan dalam dan unit beban tanah

  1. Berat sendiri bendung (ΣW) :

Untuk menghitung berat sendiri bendung, sebelumnya dipilih ukuran bronjong seperti ditunjukkan Tabel 2. Sehingga bias diperoleh volume bronjongnya dan dapat dihitung beratnya seperti di bawah ini.

Tabel 2. Ukuran kawat bronjong (SNI 03-0090-1999)

ΣW      = W1 + W2 + W3

= {(2×0.5)+(3×0.5)+(4×0.5)}x18.5     = 83.25 kN

  1. Gaya yang bekerja :

Gambar 4. Gaya-gaya yang bekerja pada bendungan bronjong

  1. Tekanan lumpur (F1) :
  • Ka = tan2 (45o –Ө/2) = 0.33

= 4.125 kN

  • Tekanan banjir (F2) :

= 15.31 kN

  • Akibat gempa (Ga) :

Ga = ΣW x f

= 83.25 x 0.010

= 0.83 kN

  1. Tinjauan terhadap geser :

= 2.46

Karena faktor keamanan (Fs) = 2.46 > 1.50 maka konstruksi bendung aman terhadap geser.

2.4  Pelaksanaan pembuatan bendung bronjong untuk irigasi

Pemasangan bronjong dilakukan lapis demi lapis agar bronjong yang satu dengan yang lainnya yang terdapat dalam satu lapisan dapat diikat dengan baik dan kuat.

Sekat semikedap air dari bahan sintetis dipasang bersamaan dengan pemasangan bronjong kawat pada mercu bagian bawah kiri (lihat Gambar 5). Sekat semi kedap air dilipatkan masuk di bawah pasangan bronjong kawat ± 0,25 m, untuk menjaga kerapatan antara bronjong kawat dan lantai bawah pondasi. Pemasangan bronjong kawat sebelah hulu as bendung dilakukan setelah pemasangan bronjong kawat sebelah hilir as bendung selesai. Selanjutnya, sekat semikedap air ditekuk selebar 0.50 m kearah hulu.

Pemasangan bronjong kawat pada lapisan kedua dilakukan mulai dari sebelah hilir dengan mengikuti pola yang telah direncanakan. Penyusunan mercu bendung pada lapisan ketiga juga mengikuti pola tertentu dengan meletakkan sekat semikedap air sejajar dan tegak lurus dengan bawah. Posisi sekat semikedap air berada ditengah-tengah lebar mercu dan kelebihan lapisan ditekuk ke dalam dan diusahakan sesuai dengan mercu bendung. Sayap bendung bronjong sebelah kiri dan kanan disusun sesuai dengan pola yang telah ditetapkan.

Pipa PVC φ 6” atau sesuai kebutuhan yang berfungsi sebagai penyadap atau pengambilan air dari bendung dipasang pada tubuh bendung sebelah hulu kiri atau kanan dengan posisi berjarak ± 20 cm dari puncak mercu dan berjarak ± 50 cm dari lebar mercu bagian kiri atau kanan, sedangkan posisi pipa PVC ke arah saluran dipasang dengan kemiringan ± 0.008 supaya sedimen tidak sempat mengendap di dalam pipa. Sepanjang pipa PVC, yang tertanam di dalam bronjong dibungkus dengan karung plastik untuk menjaga agar tidak terjadi kontak langsung antara pipa dengan batu kali dan atau batu belah.

Untuk menjaga agar sampah-sampah yang hanyut di sungai tidak masuk ke dalam pipa pengambilan, maka dipasang saringan sampah di depan pipa pengambilan. Pipa pengambilan dengan φ 6” untuk mengalirkan debit sebesar ± 30 l/sec atau sesuai untuk mengalirkan debit pengambilan rencana.

Gambar 5. Denah bendung bronjong dengan sekat semikedap air

Gambar 6. Potongan A-A bendung bronjong

Gambar 7. Potongan B-B bendung bronjong

Tahapan pekerjaan pemasangan lapisan bronjong terbawah dari bendung adalah sebagai berikut.

  1. letakkan dan susun bronjong kawat dimulai dari lapisan terbawah bendung seperti ditunjukkan Gambar 8);
  2. ikatkan bronjong kawat yang satu dengan yang lain dengan lilitan kawat φ 3 mm disepanjang sisinya;
  3. isi bronjong kawat hingga penuh dan padat menggunakan batu kali dan atau batu belah dengan φ 15 cm – 25 cm (lebih besar dari pada lobang anyaman);
  4. tutupkan tutup bronjong kawat lalu ikat sisi-sisinya dengan lilitan kawat φ 3 mm.

Susunan bronjong lapis 3,4, dan 5

Susunan bronjong lapis 2

Susunan bronjong lapis 1 (dasar)

Gambar 8. Susunan lapisan bendung bronjong

BAB III. KESIMPULAN

 

Dari sedikit uraian di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu :

  1. Kondisi eksisting Sungai Palu, memungkinkan dibangun Bendung Bronjong
  2. Cara konservasi air untuk ketersediaan air di desa tersebut adalah dengan menggunakan bendung bronjong yang dilengkapi dengan sekat semi-kedap air dengan penyaluran pipa untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi.
  3. Kestabilan dari bangunan tersebut, terhadap tekanan yang timbul sudah baik karena factor keamanan dari konstruksi bendung melebih 1.5, yakni sebesar 2.46.

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Pekerjaan Umum. Pedoman Konstruksi Bangunan. Pd T-04-2004-A. Pembuatan bendung beronjong dengan sekat semikedap air pada irigasi desa. Departemen Pemukiman dan Perencanaan Wilayah. Departemen Pekerjaan Umum

Galang Persada. 1986. Standar Perencanaan Irigasi. Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan Utama KP-02. Jakarta. Badan Penerbit Pekerjaan Umum.

Mananoma, Tiny. 2006. Manajemen Sungai Torrential Guna Pengendalian Kerusakan Das [Prosiding]. Program Studi Teknik Sipil – Sekolah Pascasarjana – Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada ,Yogyakarta

SNI 03-0090-1990 Spesifikasi Bronjong Kawat

Suparman, Soetopo. 2011. Sabo untuk Penanggulangan Bencana akibat Aliran Sedimen. Yayasan Air Adhi Eka dan JICA

Varshney, R.S. 1979. Teory and Design of Irrigation Structures, vol I & II. Roorkee: Nem Chand & Bros

Avril Lavigne WIsh You Were Here (English vs French)

{Wish You Were Here}

I can be tough, I can be strong
But with you, it’s not like that at all
There’s a girl that gives a shit
Behind this wall you just walk through it

 

 

And I remember

All those crazy things you said
You left them running through my head
You’re always there, you’re everywhere
But right now I wish you were here
All those crazy things we did
Didn’t think about it, just went with it
You’re always there, you’re everywhere
But right now I wish you were here
 

(Chorus)
Damn! Damn! Damn!
What I’d do to have you here, here, here
(I wish you were here)
Damn! Damn! Damn!
What I’d do to have you near, near, near
(I wish you were here)

I love, the way you are
It’s who I am, don’t have to try hard
We always say, say it like it is
And the truth, is that I really miss
 

 

All those crazy things you said
You left them running through my head
You’re always there, you’re everywhere
But right now I wish you were here
All those crazy things we did
Didn’t think about it, just went with it
You’re always there, you’re everywhere
But right now I wish you were here
 

(Chorus)
Damn! Damn! Damn!
What I’d do to have you here, here, here
(I wish you were here)
Damn! Damn! Damn!
What I’d do to have you near, near, near
(I wish you were here)

No, I don’t wanna let go
I just wanna let you know
That I, never wanna let go
Let go oh oh (x2)
(Chorus)
Damn! Damn! Damn!
What I’d do to have you here, here, here
(I wish you were here)
Damn! Damn! Damn!
What I’d do to have you near, near, near
(I wish you were here)

{Je voudrais que tu sois là}

Je peux être dûre, je peux être forte
Mais avec toi, ce n’est pas du tout comme ça
Il y a une fille qui en a quelque chose a foutre
Derrière ce mur que tu viens de traverser

Et je me souviens

Toutes ces choses folles que tu as dites
Tu les as laissées tourner dans ma tête
Tu es toujours là, tu es partout
Mais maintenant je voudrais que tu sois là

Tous ces trucs dingues qu’on a fait
On n’y a pas réfléchi, c’est venu comme ça
Tu es toujours là, tu es partout
Mais maintenant j’aimerais que tu sois là

[Refrain]
Zut! Zut ! Zut! (1)
Qu’est-ce que je ferais pour que tu sois là, là, là
(Je voudrais que tu sois là)
Zut! Zut ! Zut!
Qu’est-ce que je ferais pour que tu sois proche, proche, proche
(J’aimerais que tu sois là)

J’aime, ta façon d’être
C’est ce que je suis, pas besoin de faire d’efforts
On se dit toujours, les choses comme elles sont
Et la vérité, c’est que ça me manque vraiment,

Tous ces trucs dingues que tu as dit
Tu les as laissés tourner dans ma tête
Tu es toujours là, tu es partout
Mais maintenant je voudrais que tu sois là

Toutes ces trucs dingues qu’on a fait
On n’y a pas réfléchi, c’est venu comme ça
Tu es toujours là, tu es partout
Mais maintenant je voudrais que tu sois là

[Refrain]
Zut! Zut ! Zut!
Qu’est-ce que je ferais pour que tu sois là, là, là
(Je voudrais que tu sois là)
Zut! Zut ! Zut!
Qu’est-ce que je ferais pour que tu sois proche, proche, proche
(Je voudrais que tu sois là)

Non, je ne veux pas lâcher prise
Je veux juste te faire savoir
Que je, n’ai pas l’intention de lâcher prise
Lâcher prise Oh oh

[Refrain]
Zut! Zut ! Zut!
Qu’est-ce que je ferais pour que tu sois là, là, là
(Je voudrais que tu sois là)
Zut! Zut ! Zut!
Qu’est-ce que je ferais pour que tu sois proche, proche, proche
(Je voudrais que tu sois là)